Mengenali Perbedaan Antara Politisi dan Cendekiawan

- Reporter

Jumat, 26 April 2024 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com – Perbedaan antara cendekiawan dan politisi sangat mencolok mata. Cendekiawan berorientasi pada benar atau salah. Sementara politisi berorientasi pada menang atau kalah. Tulisan ini bermaksud menegaskan delapan ciri cendekiawan.

Seseorang dapat dianggap sebagai cendekiawan apabila mampu berpikir secara empirik. Artinya apa yang diungkap dihasilkan melalui proses penelitian (baik penelitian perpustakaan maupun lapangan).

Siapa saja boleh disebut cendekiawan apabila informasi yang dituturkan didapat melalui proses pengamatan (individual maupun kelompok) dan percobaan berkali-kali hingga menghasilkan sebuah konsep dan teori.

Kedua, seorang cendekiawan harus dapat berpikir secara sistematis (runut dan runtut). Maksudnya, pemikirannya dibangun dan diatur secara terencana dengan suatu metode berpikir ilmiah yang objektif sehingga mudah dipelajari bagi siapa saja.

Politisi kerap dikatakan berpikir subjektif. Kendati tak jarang juga yang berpikir objektif. Tapi demi kalkulasi kemenangan, tak jarang ada yang menggusur objektivitas. Bagi politisi itu sah saja. Tapi bagi cendekiawan terlarang.

Ketiga, seorang cendekiawan harus mampu membedakan persoalan pokok dan cabang. Seorang cendekiawan bisa menguraikan keduanya (pokok dan cabang) secara tepat sehingga terlihat hubungan, persamaan, dan perbedaan secara komprehensif. Inilah yang dikatakan bahwa cendekiawan berpikir secara analitik.

Keempat, seperti sudah disinggung di atas, cendekiawan harus dapat berpikir objektif. Artinya pemikirannya tidak bias dan harus terbebas dari kepentingan tertentu. Siapa saja baru disebut cendekiawan apabila apa yang diungkap berdasar fakta, bukan fiksi atau emosi. Selain itu yang dimaksud objektif dalam konteks ini adalah tidak dipengaruhi oleh pandangan internal.

Kelima, seorang cendekiawan harus mampu melakukan pembuktian atas segala sesuatu. Jadi cendekiawan harus mampu melakukan verifikasi. Konsep dan teori yang dibangun didukung oleh fakta.

Intinya, apa saja yang dicercah oleh cendekiawan harus dapat diuji kebenarannya berdasarkan fakta dan data yang ada. Tentu hal ini tidak jadi keharusan bagi seorang politisi.

Keenam, sifat lain yang diandalkan pada diri cendekiawan adalah mampu berpikir kritis. Karena itu, pemikiran yang ditoreh dihasilkan dari sebuah proses mendalam yang melibatkan analisis dan evaluasi yang teliti. Kritis adalah cara berpikir ilmiah untuk merespons fenomena. Dalam konteks ini, dapat ditemukan juga politisi yang kritis

Ketujuh, cendekiawan tidak boleh melanggar kaidah ilmu pengetahuan. Artinya kerangka pikir seorang cendekiawan haruslah sistematik, objektif, rasional, dan empirik. Kecakapan ini semestinya ada juga pada diri politisi.

Kedelapan, buah pikir seorang cendekiawan harus bersifat logis. Artinya apa saja yang dicercah seorang cendekiawan harus sesuai dengan logika, benar dalam penalaran, dan masuk akal. Politisi terkadang tidak seperti ini. Ada pemeo, seorang politisi terkadang membangun jembatan di tempat yang tidak ada sungai. Namun politisi bisa jadi cendekiawan. Atau cendekiawan boleh jadi politisi.

Ringkasnya, inilah delapan ciri cendekiawan yang masih dapat ditambah, yakni mampu berpikir secara empirik, sistematis, analitis, objektif, verifikatif, kritis, ilmiah, dan logis.

Penulis: Dr KH Syamsul Yakin MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berita Terkait

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd
Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor
Kecamatan Pancoran Mas bersama FKUB dan Kemenag Kota Depok Gelar Harmonisasi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat 
Warga Sampaikan Keluhan Air, Lurah Pondok Cina Jembatani dengan PT Tirta Asasta Depok (Perseroda)
Wawalkot Depok Hadiri Pelantikan PGPI, Dorong Penguatan Pelayanan Umat
787 Usulan RTLH 2026 Diverifikasi, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok Pastikan Tepat Sasaran
Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren
SMK Keluarga Widuri Gelar Tour Wisata Edukasi Bromo, Malang Jogja Tahun 2026 Bersama Dirgantara IAI Tour Travel Depok

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 15:15 WIB

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 April 2026 - 15:12 WIB

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 April 2026 - 09:45 WIB

Kecamatan Pancoran Mas bersama FKUB dan Kemenag Kota Depok Gelar Harmonisasi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat 

Rabu, 29 April 2026 - 09:43 WIB

Warga Sampaikan Keluhan Air, Lurah Pondok Cina Jembatani dengan PT Tirta Asasta Depok (Perseroda)

Rabu, 29 April 2026 - 09:41 WIB

Wawalkot Depok Hadiri Pelantikan PGPI, Dorong Penguatan Pelayanan Umat

Rabu, 29 April 2026 - 09:19 WIB

Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren

Selasa, 28 April 2026 - 15:23 WIB

SMK Keluarga Widuri Gelar Tour Wisata Edukasi Bromo, Malang Jogja Tahun 2026 Bersama Dirgantara IAI Tour Travel Depok

Selasa, 28 April 2026 - 15:20 WIB

Jabar Perkuat Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Berita Pilihan

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:15 WIB

Berita Pilihan

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:12 WIB