
SIARANDEPOK.COM – Beredar isu tak sedap perihal dugaan kelalaian medis terkait meninggalnya seorang bayi di Puskesmas Tapos beberapa waktu lalu. Menanggapi hal tersebut, Kepala UPTD Puskesmas Tapos memberikan penjelasan resmi kepada jurnalis. Ia membenarkan bahwa pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, Ny. IN menjalani proses persalinan di Puskesmas Tapos, Depok. Pada awalnya, proses pembukaan jalan lahir pasien tergolong cukup baik.
Pada proses observasi kemajuan persalinan, bidan melakukan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) pembina wilayah Tapos. Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, ternyata posisi kepala bayi belum kunjung turun. Bidan kembali berkonsultasi dengan dokter obgyn pembina wilayah, yang kemudian menyetujui agar pasien segera dirujuk. Selanjutnya, bidan menjalankan prosedur rujukan sesuai standar, dan tanggapan rujukan segera direspons oleh Rumah Sakit Setya Bhakti.
Akhirnya, Ny. IN dirujuk ke RS Setya Bhakti pada Rabu (23/9/2026) pukul 01.00 WIB dengan didampingi oleh dua orang bidan menggunakan ambulans. Setibanya di lokasi, bidan puskesmas melakukan serah terima (operan) mengenai kondisi pasien selama masa observasi kepada bidan yang bertugas di RS Setya Bhakti. “Saat itu kondisi Ny. IN dan janin masih dalam batas normal,” ungkapnya.
Selanjutnya, tim medis RS Setya Bhakti melakukan tindakan operasi pembedahan. Namun, dalam proses operasi tersebut ditemukan kondisi robekan pada rahim Ny. IN dan bayi dinyatakan meninggal dunia. “Nah, ketika dilakukan operasi, ternyata ada masalah; ditemukan robekan pada rahim dan anaknya juga sudah meninggal,” tuturnya.
Atas kondisi darurat tersebut, dokter meminta persetujuan dari pihak keluarga atau suami pasien untuk melakukan tindakan histerektomi (pengangkatan rahim). Langkah ini harus diambil karena apabila tindakan pembedahan perbaikan rahim tidak menghentikan pendarahan, kondisi tersebut akan terus berlanjut dan mengancam keselamatan jiwa sang ibu. Bidan menjelaskan bahwa dokter obgyn telah berusaha melakukan tindakan perbaikan pada rahim Ny. IN, tetapi pendarahan hebat tetap terjadi.
“Akhirnya, itu keputusan terbaik saat itu untuk menghindari risiko kematian pada ibunya akibat pendarahan. Ya sudah, dilakukan histerektomi,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa tindakan medis pengangkatan rahim tersebut tidak terjadi di Puskesmas Tapos. Mengenai alasan rujukan yang diarahkan ke RS Setya Bhakti dan bukan ke RSUD ASA, tim medis telah menjalankan seluruh prosedur sesuai dengan aturan dan mekanisme standar operasional yang berlaku.















