oleh

Wali Kota Depok Isi Kuliah Subuh Ahad Gabungan Akbar di Masjid Balai Kota

SiaranDepok.com – Wali Kota Depok, Mohammad Idris mengisi Kuliah Subuh pada pelaksanaan Kuliah Subuh Ahad Gabungan Akbar yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Depok di Masjid Balai Kota Depok, Minggu (08/01/23).

Dalam kesempatan itu, Kyai Idris, sapaannya, membacakan Kitab Majmu’ah Rasail Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari atau Irsyadus Sari fi Jam’i Mushannafati asy-Syaikh Hasyim Asy’ari.

“Ada kitab lama cocok untuk saya bacakan teksnya saat sekarang, karena saya merasakan kalau sudah masuk tahun politik suka senggol-senggolan umat Islam, sindir-sindiran, bahkan sampai fitnah fitnahan,” katanya.

Kyai Idris mengatakan, ada satu risalah KH Hasyim Asy’ari yang menarik dalam kitab tersebut, yaitu bagian yang membahas, at-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’atul Arham wal Aqrab wal Akhwan atau Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturahmi, Kerabat, dan Persaudaraan.

“Saya bacakan beberapa judul di sini dalam sebuah renungan atau bisa disebut catatan, penjelasan dari judul utamanya,” ujar Kyai Idris.

“Beliau Hadlratus Syaikh mengutip beberapa hadits, saya bacakan satu hadits saja, nanti ada satu cerita kisah beliau yang saya bacakan, satu hadits riwayat Ibnu Abbas,” tuturnya.

Dikatakannya, Rasulullah bersabda, ada tiga kelompok yang salatnya tidak terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah SWT).

Pertama, seseorang menjadi imam tapi jemaahnya pada kesal, kedua, seorang istri yang satu malam saja tinggal bersama suaminya, tapi suaminya marah. Ketiga, ada dua saudara yang berkonflik, bertengkar.

“Satu hadits lagi, pintu surga dibuka tiap hari Senin dan Kamis, makanya Rasulullah mensunahkan puasa Senin dan Kamis,” ujar Kyai Idris.

“Dan diampuni seorang hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, hamba mukmin, kecuali seseorang yang dengan saudaranya dia punya permusuhan,” jelas Kyai Idris.

“Kita sudah mukmin, beriman, salat kita masyaAllah, tapi kita masih punya permusuhan dengan saudara kita, maka cepat baikan minta maaf,” kata Kiai Idris.

Menurutnya, perhatikan dua orang ini jika masih bermusuhan, maka keduanya tidak akan mendapatkan maghfirah, kecuali mereka damai.

Lebih lanjut, Kiai Idris menceritakan kisah nyata Hadlratus Syaikh yang diringkas oleh dirinya.

“Saya melihat dengan kedua mata saya sendiri ada seseorang ulama, dia punya luar biasa aktifnya dalam beribadah, dia ga bicara kecuali sekadar kebutuhan, dia pergi haji terus, sering pergi haji sampai dia dapat julukan Syekh Tarekat Naqsyabandiyah,” tuturnya sambil membaca kitab kumpulan risalah Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang disusun oleh para murid atau santrinya.

“Pada suatu hari dia uzlah di rumah tidak kemana-mana, kecuali untuk salat jamaah dan taklim, dan suatu hari dia keluar Salat Jumat, ketika dia sampai ke masjid, dia marah-marah sama jemaah di depan masjid, lalu dia mengeluarkan kata-kata yang keji, kemudian dia pulang ke rumah,” katanya.

Lalu, sambung Kiai Idris, pada suatu saat, di rumahnya kedatangan seorang menteri atau pejabat. Pejabat ini meminta doa, karomah untuk dapat dimudahkan segala urusannya dan pejabat ini memberikan duit (uang).

“Kemudian, diterima dan didoakanlah, lalu diterima, disambut pejabat ini dengan lemah lembut, dengan lapang dada,” ujarnya.

Dirinya kembali melanjutkan risalah KH Hasyim Asy’ari di hadapan ribuan jemaah Kuliah Subuh di Masjid Balai Kota Depok.

“Setelah itu, saya dapat cerita-cerita dan melihat dia marah-marah di masjid suatu hari saya datang ke rumahnya,” ujarnya.

“Lalu saya berdiri lama di depan rumahnya, saya memanggilnya terus, fulan-fulan, Kiai fulan dan panggilan saya itu tidak dijawab-jawab,” ucap Kiai Idris.

Hingga keluarlah istrinya dibalik pintu, lalu istri tersebut berkata, saudara kamu sedang tidak suka keluar dari rumahnya untuk menerima seseorang.

Kemudian, ujar Kiai Idris, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, berkata pada istri Syekh untuk memberikan kabar bahwa saudaranya ingin jumpa kepadanya, maka hendaknya keluar dari rumah.

“Kalau dia tidak mau keluar, maka saya yang masuk dan saya paksa dia untuk keluar,” ujarnya.

Istrinya pun memberikan kabar kepada orang tersebut, kemudian barukah keluar dan menerima K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Selanjutnya, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menasehati orang tersebut dengan berkata, “Wahai saudaraku, saya dengar kamu melakukan ini dan itu, apa yang membuatmu melakukan itu?,” ujar Kyai Idris.

“Saya melihat orang pada saat itu seperti monyet tidak seperti biasanya,” ucap Kiai Idris menirukan ulama dalam kisah H. Muhammad Hasyim Asy’ari ini.

Kiai Idris pun kembali menyampaikan perkataan dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. “Kayaknya setan menyihir kedua mata kamu dan kamu dan setan itu membuat was-was hati kamu,” ujar Kiai Idris.

“Sekarang kamu masuk ke rumah, kamu diam saja di rumah biar orang-orang itu yakin, kamu ini adalah wali Allah, sehingga mereka ziarah sama kamu, minta berkah sama kamu, lalu mereka kasih hadiah-hadiah ke kamu, tapi ingat sabda Rasulullah SAW,” tuturnya.

“Tamu kamu mempunyai hak, kalau kita beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu kamu,” katanya.

Kiai Idris melanjutkan cerita dalam buku tersebut, yang beberapa hari selanjutnya, Syekh (ulama) ini datang ke rumah Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Lalu dia berkata, kamu benar wahai saudaraku, sekarang mulai hari ini saya akan meninggalkan uzlah saya di rumah,” kata Kiai Idris saat bercerita kisah tersebut.

Kiai Idris melanjutkan, ulama itu pun berkomitmen untuk melakukan apa yang dilakukan orang banyak, seperti bersosialisasi dengan masyarakat hingga diwafatkan oleh Allah SWT.

“Pelajarannya dapat diambil sendiri, oleh masing-masing, saya cuma mau mengungkapkan cerita saja, mudah-mudahan bacaan saya lulus, terima kasih,” tandas Kiai Idris.

Pada acara tersebut, ribuan jemaah memadati Masjid Balai Kota Depok sejak pukul 03.30 WIB, selain Wali Kota Depok, Mohammad Idris, tampak beberapa pejabat dan tokoh agama yang hadir.

Antara lain, Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono, Sekretaris Kota (Sekda) Kota Depok, Supian Suri, Ulama Kecamatan Cinere, KH. Hasyim Ashari, Sekretaris Persatuan Pondok Pesantren Kota Depok, KH. Sanwanih, Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia, KH. IIe Naseri Muhammad, Ketua Kuliah Subuh Margonda, Habib Muhdor Al-attos.

Kemudian, Anggota DPR RI, Hidayat Nur Wahid, Pembina Kuliah subuh kota Depok KH. Endang Bahrudin, Ketua Kuliah Subuh Jakarta Selatan, KH. Madani Madali.

Lalu, Ulama Jakarta Selatan KH. Abdul Wadud, para Asisten dan staf ahli Pemkot Depok, para pimpinan dinas atau badan di Pemkot Depok, camat se-Kota Depok, lurah se-Kota Depok, Ustaz dan Ulama Kota Depok dan Jemaah Kuliah Subuh Cinere, Jakarta Selatan, Citayam dan masyarakat Kota Depok.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru