oleh

50% Angkot di DepokTidak Bisa Diremajakan dan Beroperasi

Siarandepok.com – Peremajaan angkot agar dapat bersaing dengan tranportasi daring (dalam jaringan) akan dimulai. Tetapi setelah didata, sebanyak 50% angkutan umum yang tidak bisa beroperasi karena tak layak untuk mengangkut penumpang. Dari total 3.600 angkot yang terdata, sekitar 1.800 armada sudah dikandangkan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana, mengatakan, jumlah angkot yang terdata saat ini sebanyak 3.600 armada. Namun yang beroperasi hanya separuhnya atau sebanyak 1.800 armada.

“Berkurang 50 persen. Seharusnya ini menjadi perhatian bagi pengelola angkutan untuk melakukan peremajaan. Misalnya menambah sarana dan prasarana,” ujarnya, Kamis (28/3).

Dadang berharap ada terobosan dari pengelola angkutan agar armadanya menjadi diminati penumpang. Misalnya, dengan melengkapi pendingin sehingga penumpang merasa nyaman ketika naik angkot.

Ia sadar, perlu sinergi antara pemerintah dengan pengelola angkutan. Misalnya, pengelola memperbaiki diri dengan peningkatan sarana dan prasarana. Dari sisi pemerintah sebagai regulator bisa menjembatani. Dengan demikian fungsi angkot menjadi transportasi massal akan diminati kembali.

Hal lain yang memengaruhi turunnya penggunaan angkot adalah transportasi daring. Saat ini penggunaan transportasi daring ini sangat masif dan berdampak pada penurunan jumlah penunggang angkot.

Alasannya, pengguna merasa lebih nyaman dan sampai di tempat tujuan hanya dengan sekali naik saja. Dari data yang dimiliki hanya 30% masyarakat yang menggunakan angkot. Mereka lebih memilih transportasi online.

Ia melanjutkan, dulu satu angkot bisa diisi sembilan penumpang sekali jalan. Namun saat ini satu armada hanya diisi sekitar tiga penumpang sekali jalan.

Satgas Organda Kota Depok, Syafrial Koto, menambahkan, pihaknya telah mengusulkan agar angkot dijadikan angkutan kawasan. Sehingga angkot bisa masuk ke perumahan seperti halnya transportasi daring.

Tak hanya itu, pihaknya juga berencana menyiapkan pendingin udara di angkot. Nantinya direncanakan tersedia di angkutan medium 3/4, angkutan kecil, angkutan kawasan, dan bus wisata. “Kami menunggu regulasi dari rencana tersebut,” pintanya.

Septian, salah satu sopir angkot mengaku pendapatannya sejak adanya angkutan online berkurang drastis. Sopir D110 itu dulu biasa mendapatkan Rp150.000, namun kini hanya bisa rata-rata Rp50.000.

 

Penulis: Inggiet Yoes

Editor: Muhammad Rafi Hanif

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru