Makna Takbir

- Reporter

Kamis, 22 Juni 2017 - 10:18

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Puasa Hari Ke-27

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. KH Syamsul Yakin, Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an, Sawangan Kota Depok

Tak lama lagi Ramadhan akan meninggalkan kita. Persis pada saat kepergiannya, kita disyariatkan melepasnya dengan kalimat takbir. Allah menegaskan: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Baqarah/2: 185)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saudaraku, pada saat bergema hebat di angkasa raya lantunan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dari segenap pelosok negeri melalui masjid, surau, dan musholla-musholla, kita semua tersimpuh dan menangis. Getaran kalimat suci tersebut menghunjam dada kita seakan menyatukan diri kita kepada Sang Maha Akbar, Allah SWT. Saat itu, haru bercampur bahagia meliputi kita semua.

Pada malam takbir tersebut, Nabi SAW mengajarkan kita untuk terus-menerus berzikir dan berkontempelasi. Takbir atau Allahu Akbar merupakan ekspresi keimanan seorang hamba yang mengakui ke-Maha-Besar-an Allah SWT. Dengan takbir, kita juga merasakan bahwa diri kita begitu kecil dan sangat lemah. Selama ini kita sangat bergantung kepada-Nya. Bumi yang kita pijak, air yang kita minum, langit yang menurunkan hujan, tanah yang menumbuhkan pepohonan dan makanan, udara yang selalu kita hirup, dan ruh yang ditiupkan-Nya ke dalam raga kita adalah bukti kebesaran-Nya.

Malam takbir hendaknya juga dimaknai sebagai titik kemenangan kita mengalahkan dominasi setan di dalam diri. Termasuk memasung semua tabi’at buruk dan perbuat zalim yang biasa kita lakukan. Tetapi, mengapa justru pada malam takbir kita lebih suka kumpul di pasar, mal, atau pusat-pusat perbelanjaan lainnya? Kalau pun bertakbir, mengapa kita lebih suka berkeliling kampung, membuat gaduh, melintasi jalan raya seenaknya sehingga sering kali terjadi korban jiwa?

Saudaraku, itu tidak diajarkan agama. Itu hanya sebuah produk budaya. Dan, mengapa dalam masyarakat kita, produk budaya terasa lebih semarak ketimbang pengamalan agama?

Seringkali kita salah kaprah. Lebaran sepertinya menjadi tujuan inti, padahal esensinya adalah Idul Fitri. Takbiran, sekadar sarana atau syiar agama, sedangkan esensinya ada pada pengagungan Allah itu sendiri, yaitu takbir bukan takbiran. Termasuk, pada malam takbir, kita diminta Nabi untuk merenungi diri bukan justru menonton televisi sampai pagi. Saudaraku, kapankah kita sungguh-sungguh menjalankan perintah agama? Kapankah kita bisa mengerti simbol dan esensi, paham produk budaya dan ajaran agama?

Kembali pada maksud ayat di atas, takbir merupakan ungkapan syukur atas petunjuk yang Allah berikan kepada kita. Seperti petunjuk menjadi orang beriman, sungguh-sungguh berpuasa, mendirikan tarawih, membaca al-Qur’an, bersedekah, berzakat, dan selalu condong pada kebaikan.

Setelah diminta takbir, pada ayat berikutnya Allah berjanji akan mengabulkan doa kita semua. Allah katakan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS. al-Baqarah/2: 186).

Pada saatnya nanti, mari kita bertakbir dan memanjatkan doa. Begitu juga, kita syukuri kehadiran Idul Fitri tahun ini. Kehadirannya kita yakini bukanlah semata berdasarkan rotasi, perputaran bulan dan matahari. Melainkan harapan kita, menjadi juru selamat dan pembuka akal kita yang tumpul agar kita mampu keluar dari segala macam malapetaka, azab dan sengsara yang hingga saat ini masih mendera negeri kita, Indonesia tercinta.***

<

Berita Terkait

Seminar Online Primago 2024 “Peluang Beasiswa dan Jurus Jitu Masuk Unida Gontor
Seminar Online Primago 2024“Bagaimana Peran Orang Tua  Dalam Memondokkan Anaknya Di Pesantren
Bangun Potensi dan Karakter Santri, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago adakan Pembukaan Kegiatan Ekstrakurikuler
1 Windu Berkiprah, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago adakan Syukuran dan Seminar Online
Grand Syaikh Al-Azhar Apresiasi Pondok Pesantren Darunnajah Dalam Memperkuat Pendidikan Agama Islam di Indonesia
Ulama Besar, Grand Syaikh Al-Azhar Bakal Hadir di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta
Madina Muharram Festival 1446 H, Ramah Keluarga, Beribu Manfaat
Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Hadiri Tajamuk Kader Pesantren & Kiai Muda FPAG se Indonesia di Pondok Modern Darussalam Gontor

Berita Terkait

Jumat, 19 Juli 2024 - 12:48

Seminar Online Primago 2024 “Peluang Beasiswa dan Jurus Jitu Masuk Unida Gontor

Rabu, 17 Juli 2024 - 18:02

Calon Walikota Depok Supian Suri Sedang Trending, Difollow Bareng-Bareng

Rabu, 17 Juli 2024 - 05:52

Ini dia rekor sejarah sepakbola dunia yang ditorehkan lamine yamal, Salah satunya pemain Termuda Dunia 

Selasa, 16 Juli 2024 - 09:06

Gilanya Fans Sepakbola Copa Amerika, Apakah seperti Fans Sepakbola Indonesia? 

Selasa, 16 Juli 2024 - 08:59

DPRD Gelar Rapat Paripurna Tuk Setujui Raperda Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2023

Minggu, 14 Juli 2024 - 17:29

Bangun Potensi dan Karakter Santri, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago adakan Pembukaan Kegiatan Ekstrakurikuler

Sabtu, 13 Juli 2024 - 17:16

1 Windu Berkiprah, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago adakan Syukuran dan Seminar Online

Jumat, 12 Juli 2024 - 08:59

Peringati World Population Day, Fazar Ingatkan Peluang Sekaligus Tantangan Kependudukan Di Jawa Barat

Berita Terbaru