oleh

Berburu Lailatul Qadar

Oleh: Pradi Khusufi Syamsu, MA

Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Pradi Khusufi Syamsi (Dosen IAIN Sunan Gunung Jati)

Tidak terasa, saat ini kita akan memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. Kita tengah dalam perjalanan ibadah yang terjal lagi mendaki. Sepuluh terakhir bulan penuh berkah ini akan segera kita tapaki insya Allah. Tentu semuanya perlu ini harus kita persiapkan secara matang agar setiap jengkal waktu di bulan penuh berkah ini tidak terbuang sia-sia.

Sudah jadi rahasia umum, beribadah di bulan Ramadhan begitu spesial dan ganjarannya pun berlipat-lipat ganda dibanding di bulan lainnya. Hal ini tidak hanya karena diwajibkannya puasa selama satu bulan penuh. Namun juga adanya kehadiran lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih, yang ada di satu malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Pada malam ini Al-Qur’an diturunkan. Sebagai satu-satunya kitab induk hidayah dan segala ilmu yang kekal sampai akhir zaman. Siapa saja yang ditakdirkan oleh Allah azza wajalla menemui lailatul qadar, maka jaminan baginya adalah ampunan dari segala dosa masa lalu. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمُ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saka melakukan ibadah di malam qadar karena iman dan mengharap ridha-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada Apa dengan Lailatur Qadar?

Sedikitnya, ada lima alasan kenapa setiap Muslim mukallaf ditekankan bermujahadah dalam ibadah di sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan untuk berburu lailatul qadar. Pertama, sebagai wujud ibadah dan ketaatan kepada Allah ta’ala. Sebab, manusia diciptakan tidak lain hanya untuk menyembah kepada-Nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Kedua, sunnah atau tradisi Rasulullah SAW. Pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW semakin giat beribadah dimana tidak ditemui di waktu-waktu lain di luar Ramadhan.

عن عائشة قالت: كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ فِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رمضان مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ

‘Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersungguh-sungguh beribadah pada malam sepuluh terakhir bulan ramadhan dimana beliau tidak ditemui seperti itu di waktu lain. (HR. Muslim).

Dalam hadits lain dikatakan,

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

‘Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bila memasuki sepuluh hari, yakni sepuluh hari terakhir bulabn Ramadhan, mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (Muttafaq ‘Alaih)

Ketiga, mujahadah di sepuluh terakhir bulan puasa ini untuk menghapus dosa. Tidak ada manusia yang ma’shum atau terbebas dari dosa, kecuali Rasulullah SAW, sedang sebaik-baik pelaku dosa adalah yang bertaubat kepada Allah azza wa jalla.

Lailatul qadar merupakan momen yang paling pas untuk menghapus dosa-dosa masa lampau. Amat disayangkan jika malam itu dilewatkan begitu saja. Sebab, sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa siapa saja yang menghidupkan lailatul qadar karena iman dan mengharap ridha-Nya niscaya akan diampuni semua dosanya.

Keempat, mujahadah di malam sepuluh terakhir di bulan suci ini dapat memperbaiki atau merubah taqdir. Sebab, pada Lailatul Qadar ditetapkan segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezeki, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah SWT,

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad-Dhukhan: 4).

Sudah semestinya bagi para pencari kebahagian dunia maupun akhirat hanya bergantung dan meminta kepada Sang Maha Penentu, Allah subhana wa ta’ala, dimana Dia hanya menjadikan malam qadar sebagai waktu yang paling tepat untuk merubah takdir hamba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Perlu dicatat, takdir seseorang tidak akan berubah tanpa adanya perubahan pola dan intensitas ibadah yang lebih baik kepada Allah SWT.

Kelima, guna mencari keberkahan hidup. Lailatul qadar penuh nilai, keberkahan,dan keutamaan di sisi Allah ta’ala disebabkan Al-Quran diturunkan pada malam ini.

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad Dukhan: 3).

Kehadiran lailatul qadar disalah satu malam disepuluh malam terakhir bulan Ramadhan menyadarkan umat akan pembersihan akidah dari segala bentuk syirik, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sungguh, keberkahan hidup sejatinya hanya milik Allah SWT dan setiap hamba dibuka secara luas untuk meminta kepada-Nya pada malam yang penuh berkah ini (Lailatul Qadar).

Kisah Nabi Sam’un

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam al-Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah SAW berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Rasulullah bercerita tentang seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang diutus untuk bangsa Romawi, yakni Sam’un Ghazi AS.

Dikisahkan Nabi Sam’un Ghazi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan, keperkasaan, dan kepiawaiannya, ia manfaatkan untuk menentang penguasa kaum Kafir saat itu, yakni raja Israil.

Kemenangan demi kemenangan pun ia raih. Raja Israil mencari cara agar Nabi Sam’un bisa dikalahkan. Akhirnya, atas saran penasihatnya, diumumkan sebuah tawaran bagi siapa saja yang dapat menangkap Sam’un Ghazi akan mendapatkan emas dan permata yang berlimpah.

Isteri Nabi Sam’un yang notabene seorang kafir pun tergiur dengan harta benda yang ditawarkan oleh raja Israil. Ia membujuk suaminya dengan daya dan upaya agar memberitahukan kepadanya tentang kelemahan dirinya. Nabi Sam’un Ghazi AS terpedaya. Karena rasa sayang dan cintanya kepada isteri, Nabi Sam’un akhirnya menjawab pertanyaan isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku”

Singkat cerita, tatkala Nabi Sam’un sedang tertidur pulas, diikat oleh isterinya. Lalu dibawa kehadapan Raja Israil. Dan, Nabi Sam’un Ghazi langsung disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana si raja.

Karena diperlakukan yang sedemikian bengis dan sadisnya, Nabi Sam’un Ghazi berdo’a kepada Allah azza wajalla. Ia memulai dengan bertaubat kepada Allah ta’ala, lalu memohon pertolongan kepada-Nya agar kekuatannya kembali seperti semula untuk membasmi kejahatan dan kebatilan. Nabi Sam’un Ghazi khawatir bila sepeninggalnya kejahatan dan kezhaliman makin merajalela.

Alhasil, doa Nabi Sam’un dikabulkan oleh Allah ta’ala. Kekuatannya kembali seperti  semula. Istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta istri dan para kerabat yang menghianatinya.Kemudian Nabi Sam’un bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas kebatilan dan kekufuran dan berpuasa yang lamanya 1.000 bulan tiada henti. Semua itu beliau lakukan atas hidayah dari Allah SWT.

Ketika Rasulullah SAW menyelesaikan cerita kisah Nabi Sam’un Ghazi As yang berjuang fisabilillah selama 1.000 bulan, seorang sahabat nabi berkata, “Ya Rasulullah, kami juga ingin beribadah sebagaimana Nabiyullah Sam’un Ghazi as. Rasulullah pun diam sejenak dan dalam waktu yang cepat turunlah wahyu kepada beliau,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 1-5)

Maka, untuk dapat menyamai bahkan melebihi ibadahnya Nabi Sam’un AS, umat Nabi Muhammad hanya cukup meraih Lailatur Qadar. Karena timbangan Lailatur Qadar melebihi 1000 bulan.

Jadi, amat disayangkan jika sepuluh malam terakhir di bulan ini diisi dengan aktifitas atau hal-hal yang sia-sia. Alias suatu pekerjaan yang tidak memberikan manfaat jika dikerjakan dan tidak pula mengakibatkan bahaya  (mudharat) jika ditinggalkan, seperti mengutamakan berburu fashion dan kuliner untuk Idul Fitri hingga melupakan sunnah Rasulullah dalam menyikapi sepuluh terakhir di bulan suci ini.

Sungguh, perbuatan mengutamakan fashion, kuliner, atau sekedar ‘memanjakan mata’ tidak pernah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW di sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, perburuan Lailatul Qadar pantas dan layak disemarakkan dengan melakukan i’tikaf di masjid-masjid sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan isteri-isteri beliau sampai Allah ta’ala mewafatkannya.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan, kesabaran, taufik, dan hidayah sehingga mentakdirkan kita untuk bertemu Lailatur Qadar. Amin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru