



Siarandepok.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino masih berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi tersebut diprediksi akan memberikan dampak signifikan bagi Indonesia, termasuk meningkatnya risiko musim kemarau yang lebih panjang dan kering serta penurunan kualitas udara.
Koordinator Bidang Iklim Terapan BMKG, Siswanto, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik Provinsi Jawa Barat bertema “Urban Climate, Urban Future: Memahami Iklim Perkotaan untuk Menjaga Masa Depan” yang digelar di Kantor Kelurahan Pancoran Mas, Jumat (19/6/2026).
Menurut Siswanto, Kota Depok sebagai salah satu kota penyangga Jakarta menghadapi tantangan tersendiri akibat pesatnya urbanisasi. Perubahan fungsi lahan dari kawasan pertanian menjadi permukiman dan kawasan komersial dinilai turut memengaruhi kondisi iklim perkotaan.
“Perkembangan wilayah yang terjadi di berbagai kecamatan di Kota Depok dapat mengubah karakteristik iklim lokal dan berdampak pada kondisi lingkungan di masa depan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan adanya perubahan iklim di Kota Depok. Di antaranya adalah peningkatan suhu udara pada siang maupun malam hari, pola hujan yang cenderung lebih singkat tetapi berintensitas tinggi, serta meningkatnya tingkat polusi udara.
Meski demikian, Siswanto menegaskan bahwa dampak perubahan iklim masih dapat diminimalkan melalui berbagai langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat. Menurutnya, kolaborasi antara BMKG dan Pemerintah Kota Depok sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan iklim di masa mendatang.
“Dengan langkah mitigasi yang baik, dampak perubahan iklim dapat ditekan sehingga lingkungan menjadi lebih ramah dan masyarakat lebih siap menghadapi berbagai kondisi cuaca ekstrem,” katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Prasetya, menjelaskan bahwa kegiatan Sekolah Lapang Iklim merupakan program rutin tahunan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Ia menyebutkan bahwa tahun ini kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, seperti Karang Taruna, kalangan milenial, dan perwakilan warga lainnya.
“Tahun sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan di Kecamatan Cipayung. Kami berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan oleh Camat Pancoran Mas, Mustakim. Ia menilai Sekolah Lapang Iklim memberikan manfaat besar bagi masyarakat dalam memahami tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Menurutnya, meskipun perkembangan perkotaan terus berlangsung, Kota Depok masih memiliki sejumlah wilayah yang berpotensi untuk sektor pertanian, seperti Kecamatan Cipayung dan Sawangan. Karena itu, pemahaman terhadap kondisi iklim menjadi penting untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan daerah.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan ini. Semoga ilmu yang diperoleh peserta dapat bermanfaat dan disebarluaskan kepada masyarakat Kota Depok,” tutupnya.












