SiaranDepok.com — Fenomena migrasi besar-besaran tengah melanda Selandia Baru setelah lebih dari 70.000 warganya dilaporkan meninggalkan negara tersebut dalam satu tahun terakhir. Data terbaru hingga Februari 2026 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk memilih berpindah ke Australia demi mencari pendapatan yang lebih menjanjikan.
Arus kepergian ini mencakup sekitar 1,4 persen dari total populasi negara itu, sebuah angka yang memicu kekhawatiran terkait hilangnya tenaga kerja terampil secara permanen.
Alasan ekonomi menjadi pendorong utama di balik keputusan warga untuk menyeberangi Laut Tasman. Saat ini, Selandia Baru tengah menghadapi pasar tenaga kerja yang lesu dengan tingkat pengangguran mencapai 5,3 persen, angka tertinggi dalam hampir satu dekade.
Kondisi ini diperburuk dengan stagnasi pertumbuhan PDB dan daya beli masyarakat yang merosot tajam akibat upah yang tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok serta biaya perumahan.
Sektor kesehatan dan keamanan menjadi bidang yang paling terdampak oleh tren eksodus ini. Australia menawarkan daya tarik luar biasa dengan rata-rata gaji perawat mencapai Rp1,01 miliar hingga Rp1,07 miliar per tahun, jauh di atas standar upah di Selandia Baru.
Selain itu, tenaga kepolisian juga banyak yang mengundurkan diri setelah mendapatkan tawaran gaji hingga Rp880 juta per bulan disertai fasilitas perumahan gratis dari lembaga-lembaga di Australia.
Menanggapi situasi ini, Menteri Tenaga Kerja Selandia Baru, Andrew Little, dalam sebuah pernyataan resmi mengakui tantangan berat yang dihadapi pemerintah. “Kita sedang berkompetisi dalam pasar talenta global yang sangat agresif.
Pemerintah menyadari bahwa untuk mempertahankan tenaga medis dan keamanan kita, diperlukan langkah nyata dalam penyesuaian kesejahteraan serta penciptaan iklim ekonomi yang lebih kompetitif agar warga kita tidak lagi melihat pindah ke luar negeri sebagai satu-satunya jalan keluar,” tegasnya. (Asep)










