Siarandepok.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan, Dr. Novita Sari Yahya menegaskan pentingnya literasi sastra sebagai jalan membentuk manusia yang lebih berempati, kritis, dan berkarakter. Penulis buku Padusi: Alam Takambang Jadi Guru ini menilai, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan upaya membangun peradaban.
> “Dengan membaca dan menulis, kita belajar mengolah rasa, menyelami kehidupan, dan memahami manusia lain. Sastra melatih empati, sejarah memberi akar, filsafat melatih berpikir kritis. Tiga bidang ini seharusnya menjadi fondasi pendidikan tinggi kita,” ujar Novita.
Sastra sebagai Rumah Empati
Novita percaya bahwa sastra adalah jendela kemanusiaan. Melalui cerita, puisi, dan drama, seseorang belajar tentang penderitaan, cinta, perjuangan, dan harapan. “Anak muda yang akrab dengan sastra biasanya lebih peka terhadap persoalan sosial,” katanya.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Karlina Supelli, filsuf Indonesia, yang menekankan bahwa sastra mempertemukan manusia dengan kisah penderitaan dan pilihan-pilihan hidup yang tidak selalu tegas. Dengan sastra, generasi muda belajar merasakan yang dialami orang lain.
Dalam tulisannya di Suara Anak Negeri, Novita menekankan bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga “membangun rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain.”
Sejarah sebagai Akar Kebangsaan
Bagi Novita, sejarah adalah pengingat kolektif. Bangsa tanpa sejarah bagaikan pohon tanpa akar: mudah tumbang oleh badai zaman. “Gerakan perempuan, perjuangan kebangsaan, atau bahkan sejarah lokal, semuanya penting diajarkan agar mahasiswa memahami identitas dan menghargai perjuangan masa lalu,” ujarnya.
Filsafat sebagai Latihan Berpikir Kritis
Selain sastra dan sejarah, Novita menekankan pentingnya filsafat di perguruan tinggi. Filsafat, menurutnya, melatih mahasiswa untuk berani bertanya, menimbang, dan mengambil sikap. “Tanpa filsafat, pendidikan hanya menghasilkan orang pintar teknis, tapi miskin refleksi,” ucapnya.
Dalam sebuah artikel di NeoDetik, Novita menuliskan bahwa “filsafat adalah ruang bernapas bagi akal sehat di tengah hiruk pikuk pragmatisme zaman.”
Literasi sebagai Gerakan Sosial
Melalui karya tulis, buku, hingga kampanye Self Love: Rumah Perlindungan Diri, Novita menjadikan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial. Dalam wawancara dengan Poskota TV, ia mengatakan:
> “Self love bukan sekadar merawat diri, tapi melindungi martabat manusia. Gerakan ini saya kaitkan dengan literasi karena membaca dan menulis adalah bentuk mencintai diri dengan cara intelektual.”
Penjualan bukunya kerap ia alokasikan untuk pustaka keliling, pendidikan keluarga, dan panti asuhan.
Profil Singkat Novita Sari Yahya
Novita Sari Yahya lahir di Padang, Sumatera Barat, dan kini berusia 52 tahun. Ia menekuni berbagai peran: dokter, penulis, peneliti, guru SMK Kesehatan, hingga aktivis literasi.
Selain di dunia akademik, Novita aktif di panggung internasional. Ia dipercaya sebagai National Director Miss Elite Global Indonesia dan Mrs. Gaia World Indonesia. Ia juga pernah meraih prestasi di ajang kecantikan sebagai finalis Putri Ayu Indonesia 1995 wakil Sumbar dan runner up ke 2 Putri Kartini 1995.
Novita adalah sosok yang memadukan dunia intelektual, budaya, dan pageant internasional, dengan visi utama memperjuangkan literasi, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan
Menyongsong Generasi Baru
Novita optimis, masa depan Indonesia akan lebih baik jika kampus berani memberi ruang lebih besar bagi sastra, sejarah, dan filsafat. “Teknologi penting, ekonomi juga. Tapi tanpa budaya, bangsa hanya akan jadi penonton di rumah sendiri. Perguruan tinggi harus jadi benteng terakhir melahirkan manusia utuh,” tegasnya.
Info Pemesanan Buku Karya Novita Sari Yahya
Harga: Rp120.000 (belum termasuk ongkir)
Kontak: 0895-2001-8812
Instagram: @novita.kebangsaan










