
Oleh: Khairunnas
Belakangan calon orang tua banyak yang khawatir akan melahirkan anak stunting. Tidak salah sih, tapi jangan pula takut untuk memiliki anak. Apalagi sampai mengambil sikap seperti seorang selebgram yang menikah tapi tidak ingin punya anak alias childfree.
Menikah tanpa anak bagi saya sih itu pilihan pribadi. Suka-suka yang menjalani saja. Tapi apa iya harus demikian? Bukannya sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia itu harus berkembang biak seperti makhluk Tuhan lainnya?
Tidak terbayang bukan jika semua orang memilih childfree? Lantas siapa yang akan melanjutkan tugas manusia untuk mengelola bumi dan membangun peradaban? Jangankan manusia yang tidak mau memiliki keturunan, bahkan hewan sekalipun jika tidak berreproduksi pasti menimbulkan masalah bukan?
Sebagai contoh, Anda tidak bisa membayangkan jika ayam berhenti bertelur atau sapi stop beranak bukan? Bagaimana kelangsungan sumber bahan makanan untuk manusia? Mungkin saja manusia bisa beralih ke sumber makanan lain. Tapi kalau semua hewan dan tumbuhan berhenti berreproduksi, lantas manusia mau makan apa? Bukankah ujung-ujungnya seluruh isi bumi akan punah? Apa iya itu yang kita inginkan?
Jangankan satu sumber makanan yang stop berreproduksi, satu jenis hewan saja jika punah sudah menimbulkan masalah. Bukankah ilmu biologi mengajarkan bahwa lingkungan itu memiliki rantai makanan? Satu saja rantai makanan yang terganggu apalagi punah pasti akan berdampak besar bagi keberlangsungan ekosistem.
Tidak percaya? Anda bisa lihat beberapa kasus hewan buas seperti buaya, harimau atau ular yang belakangan sering memangsa manusia? Kenapa itu terjadi? Karena sumber makanan mereka terganggu akibat eksploitasi sumber daya alam berlebihan yang dilakukan manusia.
Sampai di sini Anda pahamkan kenapa childfree itu bukan pilihan yang tepat buat manusia. Sebagai manusia kita harus terus melanjutkan keturunan. Menikah, memiliki anak, membesarkan, mendidik, dan menyiapkannya sebagai generasi masa depan.
Persoalannya sekarang, generasi seperti apa yang harus kita siapkan? Jawabannya tentu yang sehat, cerdas, dan berkarakter yang baik bukan. Lantas bagaimana cara mewujudkannya?
Tenang, negara saat ini sedang berupaya keras untuk menyiapkan generasi emas jelang peringatan 100 tahun Indonesia merdeka. Berbagai program sedang diluncurkan untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan tangguh. Satu diantaranya adalah melalui program percepatan penurunan angka stunting.
Eits, jangan salah paham dulu, stunting bukan hanya soal ukuran tubuh lho. Memang, salah satu ukurannya adalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur. Tapi bukan hanya itu, tapi juga soal tingkat kecerdasan dan kendali emosi yang lemah.
Oleh karena itu, wahai calon orang tua, waspadalah, jangan sampai anak Anda stunting. Tidak mau kan jika anak Anda nanti menjadi beban dalam pembangunan? Semua orang tua pasti ingin anaknya sukses dan bermanfaat dalam mewujudkan Indonesia yang maju.
Maka dari sekarang cegah agar anak Anda terhindar dari stunting. Caranya? Harus dimulai sejak dini, sebelum terjadinya konsepsi atau pembuahan.
Kalau begitu, pencegahannya harus dimulai sebelum menikah dong. Betul sekali. Setiap calon pengantin harus memeriksakan kesehatannya sebelum menikah. Tiga bulan sebelum menikah pastikan Anda berdua memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Tidak usah jauh-jauh, datang saja langsung ke Puskesmas terdekat di lingkungan Anda.
Setelah menikah, jika langsung dikasih rezeki, langkah berikutnya yang harus Anda lakukan adalah menjaga kesehatan selama kehamilan. Masa kehamilan ini adalah fase yang paling penting bagi seorang calon jabang bayi. Sebab, seluruh organ tubuh bayi tumbuh secara sempurna pada periode ini. Selain itu 70% otak janin berkembang selama dalam kandungan. Artinya, derajat kesehatan dan kecerdasan seorang anak sangat ditentukan selama dia berada dalam rahim ibunya.
Makanya, calon orang tua harus memperhatikan asupan gizi selama kehamilannya. Pastikan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan dimasak dengan tingkat kematangan yang sempurna. Selain itu, pada masa kehamilan ini, calon orang tua juga perlu memberikan stimulus kepada calon bayi dengan kalimat-kalimat yang positif, pikiran-pikiran yang penuh semangat dan terhindar dari stress. Ingat lho, kondisi psikologis seorang calon ibu sangat berdampak kepada tumbuh kembang janin yang dikandungnya.
Setelah melahirkan secara sehat, tugas orang tua tentu saja belum berhenti. Untuk menghindarkan anak Anda dari stunting, pastikan dia memperoleh ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Hal ini sangat bermanfaat untuk memperkuat metabolisme tubuhnya sehingga tidak mudah terserang penyakit. Selanjutnya Anda harus terus memantau tumbuh kembang anak Anda hingga berusia 2 tahun.
Sampai usia 2 tahun Anda harus ekstra hati-hati dalam memberikan asupan gizi serta pengasuhan kepada sang buah hati. Periode ini adalah periode yang paling menentukan, yang disebut para pakar sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 1.000 HPK dihitung sejak terjadinya pembuahan hingga anak berusia 2 tahun. Masa ini adalah periode emas untuk mewujudkan generasi yang unggul dan tangguh di masa depan.
Pastikan pada masa 1.000 HPK ini anak Anda memperoleh asupan gizi yang cukup dan seimbang. Terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran dan buah. Selain itu, jangan lupa jika ada masalah atau keluhan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang ada di lingkungan Anda.
Jika ini dilakukan, maka anak Anda akan terhindar dari stunting. Tidak usah takut lagi memiliki anak, dan mari kita katakan secara bersama-sama “Say No to Childfree”.















