Oleh : Khairunnas
Perbedaan (keunikan) merupakan suatu keniscayaan yang dihadapi manusia. Perbedaan itu bahkan terdapat di segala aspek kehidupan. Misalnya, dalam aspek fisik atau materi ada perbedaan tinggi, berat, kekuatan, warna kulit, kesehatan, kelengkapan, dan kekayaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari aspek non materi ada perbedaan tingkat kemauan, kebutuhan, pilihan, ketakutan, amarah, dan kesenangan.
Dari aspek intelektual ada perbedaan tingkat ilmu dan keterampilan, dari aspek sosial ada perbedaan tingkat strata sosial, peran sosial, serta status sosial, dan dari aspek spiritual ada perbedaan keyakinan, kepercayaan, energi psikis, agama, dan cara penenangan jiwa (dzikir, meditasi, hening, perenungan dan lain sebagainya).
Dapat kita simpulkan bahwa tidak ada manusia yang diciptakan sama persis. Setiap manusia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Perbedaan itu semata-mata merupakan kehendak dan keinginan Tuhan Yang Maha Esa.
Tuhan menciptakan setiap manusia dengan segala kesempurnaannya masing-masing.
Dia tidak sekedar menciptakan manusia pertama, Nabi Adam As begitu saja dan selesai, lalu semua diserahkan kepada mekanisme alam, seperti yang diyakini oleh penganut teori evolusi.
Tuhan menciptakan Nabi Adam As dengan segala keunikannya. Kemudian Dia juga menciptakan keturunan Nabi Adam As dengan segala keunikannya masing-masing.
Saat ini, kita bisa saksikan keanekaragaman umat manusia, meskipun semuanya adalah keturunan dari manusia yang sama, yaitu Nabi Adam As. Tuhan memang menciptakan manusia beragam, terdiri dari ras dan suku bangsa yang berbeda.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Tuhan tidak berhenti pada penciptaan Nabi Adam As, tetapi terus menciptakan manusia-manusia lainnya dengan segala keunikannya.
Tuhan tidak pernah berhenti menciptakan manusia sampai detik ini. Meskipun awalnya hanya menciptakan satu orang, yaitu Nabi Adam As, tetapi dari situ kemudian berkembang menjadi dua, tiga, terus menjadi banyak bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Artinya, adanya manusia yang berbeda-beda, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa saat ini semata-mata hanyalah karena keinginan Tuhan menciptakannya demikian.
Sebagai manusia ber-Tuhan kita wajib mengimani bahwa Sang Maha Agung tetap “menciptakan” manusia sampai detik ini. Tuhan adalah al-Khaliq (Maha Pencipta).
Keajaiban ciptaan-Nya tidak berhenti hanya sampai Nabi Adam As saja, tetapi terus berlanjut sampai sekarang, dan akan tetap terus sampai akhir zaman.
Tuhan menciptakan setiap manusia dengan sangat unik.
Satu per satu punya keunikan, satu per satu punya keistimewaan, satu persatu punya kelebihan, satu per satu punya kekhasannya sendiri-sendiri. Manusia bukanlah sebuah produk massal.
Manusia tidak seperti barang yang dibuat sama di suatu pabrik. Manusia ibarat kerajinan tangan, yang diciptakan satu per satu, dengan tingkat ketelitian yang amat tinggi dan keunikan yang spesifik.
Tuhan menciptakan manusia satu persatu, mulai dari zygote, kemudian janin dan akhirnya jadilah manusia.
Masing-masing individu punya struktur DNA sendiri-sendiri yang unik dan spesifik. Bahkan sidik jari manusia dibuat berbeda satu dengan lainnya.
Manusia bukanlah tercipta secara kebetulan, sebagaimana yang diyakini oleh para penganut paham teori evolusi.
Bukankah di balik setiap makhluk hidup ada struktur yang rumit, sehingga tidak mungkin tercipta secara kebetulan?
Semua tidak mungkin tercipta begitu saja, pasti ada yang merancangnya dengan teliti.
Kita harus meyakini bahwa keragaman manusia, baik dari segi kompetensi maupun asal usulnya semata-mata karena keinginan Sang Pencipta.
Tuhan menciptakan masing-masing manusia lengkap dengan segala alasannya.
Oleh sebab itu, setiap manusia di bumi ini sesungguhnya memiliki peranan yang berbeda-beda.
Perbedaan peran ini mesti menjadi alasan bagi manusia untuk tidak bersifat egois.
Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semua saling bergantung.
Ketergantungan ini cukup menjadi alasan bagi setiap manusia untuk mengedepankan semangat berkolaborasi atau yang dalam kultur Indonesia disebut dengan gorong royong.
Semangat gotong royong harus menjadi nilai yang terus dipupuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Gotong royong harus ditanamkan kepada generasi bangsa sejak dini. Mulai dari keluarga, pendidikan, hingga lingkungan masyarakat.
Kegotongroyongan di lembaga pendidikan dapat dilakukan dengan mengedepankan prinsip kolaborasi ketimbang kompetisi.
Sudah saatnya pembelajaran di-design agar anak didik dapat bekerjasama dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Dengan semangat kolaborasi, generasi bangsa akan mampu mewujudkan Indonesia Maju di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Semoga!
*Penulis Buku 9 Langkah Jadi Pemenang
