Cerita 15 Tahun Brand Clarcks

- Reporter

Selasa, 26 Februari 2019 - 18:08

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siarandepok.com –  Selama hampir lima belas tahun terakhir, Clarks dianggap sebagai brand sepatu yang hanya cocok dipakai orang tua.

Walau nyaman dipakai, desainnya yang kuno membuat kebanyakan orang termasuk kamu, mungkin lebih memilih mengenakan sneakers kekinian untuk menemani aktivitas sepanjang hari, entah itu bekerja, hang out, atau jalan-jalan.

Hanya segelintir orang yang masih memakai Clarks, itupun karena alasan nostalgia atau benar-benar mencari sepatu yang nyaman di kaki, bukan karena gengsi ingin dipuji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak heran pula jika tahun lalu Clarks menutup semua outletnya di Indonesia, setelah didahului dengan diskon besar-besaran. Brand sepatu asal Inggris itu seolah menyerah pada pasar di tanah air yang dipenuhi pemain-pemain muda.

Namun benarkah brand yang menciptakan sepatu ikonik Desert Boots itu benar-benar angkat tangan? Ternyata tidak. Akhir tahun lalu, Clarks kembali ke Indonesia dengan konsep baru dan partner berbeda.

“Sebelumnya, meski semua orang mengenal Clarks, tapi persepsi terhadap brand ini adalah old fashion. Orang tahu bahwa Clarks membuat sepatu yang nyaman dipakai, tapi kebanyakan penggunanya adalah dari usia tertentu,” ujar Guillaume Nagy, President Clarks untuk South East Asia dan Oceania.

Saat meresmikan gerai Clarks di Pondok Indah Mall, Nagy mengakui bahwa brand ini seolah terputus dari konsumen selama lima belas tahun.

Menurutnya, akar dari masalah tersebut sebenarnya sederhana. Sejak tahun 2000 hingga 2015, brand ini tidak benar-benar melakukan inovasi.

“Kami fokus pada pembuatan sepatu yang nyaman tanpa memperhatikan bahwa konsumen berubah, dan apakah produk yang kita buat adalah sepatu yang ingin dibeli konsumen,” paparnya dalam bahasa Inggris dengan logat Prancis yang kental.

“Kami terbiasa mendikte konsumen. Kami yang punya brand, maka kami akan menentukan apa yang sebaiknya dipakai pembeli. Pembeli harus percaya pada kami,” lanjutnya.

Ternyata pendekatan seperti itu ketinggalan jaman, karena konsumen modern memiliki selera dan keinginan sendiri. Mereka bahkan bisa mengarahkan brand untuk membuat sepatu sesuai apa yang mereka inginkan dan beberapa brand meraih kesuksesan karena menempatkan konsumen sebagai fokus inovasinya.

Sementara Clarks adalah perusahaan yang kental dengan tradisi sejak 193 tahun yang lalu. Brand ini memerlukan sepuluh hingga lima belas tahun untuk memahami perubahan perilaku konsumen. Ini yang memberi dampak negatif pada penjualannya.

Untunglah pada tahun 2015, ada perubahan kepemimpinan di perusahaan. Clarks yang merupakan perusahaan keluarga, untuk pertama kalinya melakukan pendekatan berbeda terhadap pasar.

“Untungnya juga bahwa saat itu kerjasama Clarks dengan operator sebelumnya di Indonesia segera berakhir,” lanjut Nagy.

Pasalnya, salah satu masalah yang dihadapi di Indonesia saat itu adalah bahwa toko-toko Clarks di Indonesia dijalankan dengan cara kuno.

“Artinya, saat kamu memasuki toko, kamu akan melihat sepatu-sepatu kami tidak dikelompokkan dalam grup yang berbeda atau harga berbeda, dan kebanyakan dijual dengan harga 10-15 persen lebih tinggi dibanding harga di Singapura,” ujar Nagy.

Menurut Nagy, itu adalah masalah besar. Alasannya, konsumen akan berpikir Clarks hanya menjual sepatu untuk usia tertentu, bukan untuk semua orang, dan harganya terlalu mahal.

“Yang kami lakukan saat ini adalah mengubah persepsi itu. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama,” papar pria yang bergabung dengan Clarks sejak Juni 2017 itu.

Kini, di gerai-gerai yang baru dibukanya, Clarks menawarkan konsep yang disebut Pure, dengan suasana toko yang klasik untuk menggambarkan sejarah panjangnya, namun simpel dan rapi sebagai bentuk semangat yang modern.

Di gerai-gerai baru yang menggunakan dinding berwarna netral dan lantai kayu senada ini “sepatu-sepatu menjadi bintangnya”. Lampu-lampu pun ditata untuk menampilkan jajaran sepatu dalam rak menjadi lebih menarik.

Saat memasuki gerai, suasananya akan seperti galeri modern yang terang, sesuai dengan tema yang diusung yakni kesederhanaan dan kejujuran.

Konsep yang dipakai di seluruh gerai Clarks ini adalah Pure alias kemurnian. Pure terkait dengan kejujuran, hal yang menjadi filosofi di balik sepatu Clarks.

Konsep inilah yang akan kita temukan di outlet-outlet terbaru Clarks di Pondok Indah Mall, Paris Van Java Mall, dan Mall Kelapa Gading.

Tapi mengubah desain toko semata, tidak akan serta merta menarik orang untuk masuk dan membeli. Clarks harus melakukan inovasi dan menghadirkan sepatu-sepatu yang cocok dengan keinginan pembeli masa kini.

Sebagai brand yang sudah ada sejak 1825, Clarks sebenarnya tidak asing dengan inovasi.

“Dengan usia hampir 200 tahun, Clarks adalah salah satu brand pembuat sepatu tertua di dunia. Dan bila kita melihat sejarah perusahaan ini kamu akan melihat bahwa Clarks sebenarnya brand yang sangat inovatif,” ujar Nagy.

Banyak orang tidak tahu bahwa Clarks sudah membuat sistem bantalan pada sepatu agar nyaman dipakai, jauh sebelum brand-brand sneakers yang kini ngetop itu lahir.

“Mesin pertama yang membuat produk bantalan adalah buatan Clarks. Lalu jenis sepatu yang menyesuaikan bentuk kaki, adalah kreasi Clarks. Jadi banyak inovasi di bidang sepatu yang kita kenal saat ini sebenarnya berasal dari Clarks,” lanjut Nagy.

Bisa disebut Clarks ikut membentuk industri sepatu yang kita lihat hari ini. Namun jejak itu seperti menghilang selama 15 tahun saat Clarks asyik dengan dirinya sendiri.

Baru pada tahun 2015, ketika Chief Brand Officer, Jason Beckley bergabung, Clarks mendapatkan kembali spirit inovasinya dengan membuat desain-desain baru bagi konsumen yang selama ini terabaikan, yaitu mereka yang berusia antara 10 hingga 40 tahun.

Namun yang dilakukan Clarks bukan sekedar meniru model-model terbaru yang sedang hits. Brand asal Somerset ini justru melihat kembali arsip mereka, yakni 22.000 pasang sepatu yang tersimpan di museum Clarks.

Hasilnya, sekitar 3000 pasang sepatu dengan desain baru dimunculkan tiap tahun. Koleksi-koleksi itu meliputi sepatu anak, remaja, hingga dewasa. Dari sepatu resmi, casual, hingga sport atau Clarks menyebutnya Athleisure.

 

Penulis : Dian Mutia Sari

Editor : Faisal Nur Fatullah

 

<

Berita Terkait

SMPIK AL-Khoeriyah Depok Adakan Kegiatan Trip to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel
PKBM PRIMAGO Indonesia Adakan Asesmen Sumatif Siswa Kelas 6 SDI & 9 SMPI Tahun 2024 di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok
SMP Tirtajaya Depok Adakan Tour Wisuda to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel
Mengulik Kedalaman Pasukan Tim Atalanta dan Leverkusen Jelang Final Liga Eropa 2024
Punya Skema Permainan Sama, Sanggupkah Tim Liga Italia Atalanta Patahkan Rekor Tim Liga Jerman Leverkusen di Final Liga Eropa 2024 ?
Perkuat Sinergitas Lintas Sektor, Komitmen BIN Sukseskan WWF ke-10 di Bali Banjir Apresiasi
85 Tahun, Puluhan Ribu Alumni Pesantren Darunnajah Dedikasikan Untuk Bangsa dan Agama
Deklarasi Menteri WWF ke-10 Angkat Pengelolaan Air Terpadu pada Pulau Kecil

Berita Terkait

Kamis, 23 Mei 2024 - 22:03

SMPIK AL-Khoeriyah Depok Adakan Kegiatan Trip to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:58

PKBM PRIMAGO Indonesia Adakan Asesmen Sumatif Siswa Kelas 6 SDI & 9 SMPI Tahun 2024 di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:56

SMP Tirtajaya Depok Adakan Tour Wisuda to Yogyakarta Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:53

Mengulik Kedalaman Pasukan Tim Atalanta dan Leverkusen Jelang Final Liga Eropa 2024

Kamis, 23 Mei 2024 - 21:51

Punya Skema Permainan Sama, Sanggupkah Tim Liga Italia Atalanta Patahkan Rekor Tim Liga Jerman Leverkusen di Final Liga Eropa 2024 ?

Kamis, 23 Mei 2024 - 12:00

85 Tahun, Puluhan Ribu Alumni Pesantren Darunnajah Dedikasikan Untuk Bangsa dan Agama

Rabu, 22 Mei 2024 - 12:38

Deklarasi Menteri WWF ke-10 Angkat Pengelolaan Air Terpadu pada Pulau Kecil

Selasa, 21 Mei 2024 - 17:47

Kenapa Klub Seri-A Como 1907 Tidak Tertarik Rekrut Tom Haye ? ini Alasannya

Berita Terbaru