oleh

Doa Berlindung dari Godaan Setan

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok

“Tuhanku! Aku berlindung kepada Engkau dari rayuan setan, dan aku berlindung kepada Engkau, Tuhanku, semoga mereka jangan datang kepadaku”
(QS. Al-Mu’minun/23: 97-98)

Seorang ulama asal Mesir, Muhammad al-Ghazali dalam kitab tafsirnya Nahwu Tafsir Mawdhu’i li Suwar al-Qur’an al-Karim, menulis bahwa surat ke-23 ini turun untuk menghibur kaum mukmin bahwa mereka memiliki masa depan yang baik. Berbeda dengan kaum kafir yang akan binasa secara nyata.

Mengapa demikian? Salah satunya karena Allah mengajarkan kepada kaum mukmin satu doa dalam surat tersebut agar tidak tergelincir ke lembah dosa akibat bujuk rayu setan durjana. Untuk itu kaum mukmin wajib memahami dan membaca doa tersebut setiap saat.

Menurut Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir, doa di atas bisa dimaknai secara lebih jelas. Pada ayat 97, ia memperjelas: “Hamba berlindung kepada Engkau dari hasutan, godaan, bujuk rayu, dan bisikan-bisikan setan terhadap manusia”.

Sedangkan pada ayat 98, ia menafsiri: “Dan hamba berlindung kepada Engkau Ya Rabbi dari kehadiran mereka dalam urusan-urusan hamba karena mereka tidak lain datang dengan membawa keburukan”.

Selain itu, kata Wahbab Zuhaili, maksudnya bisa juga, “Hamba berlindung kepada Engkau dari keberadaan mereka berkerumun di sekitar hamba dalam berbagai keadaan dan aktivitas”. Inilah cara berdoa dalam al-Qur’an yang Allah ajarkan untuk menghadapi setan

Bagi Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang terkenal, seseorang harus memanggil asma-Nya (Ya Rabbi) pada saat memulai segala urusan. Hal ini bertujuan untuk mengusir setan. Misalnya, ketika makan, bersetubuh, menyembelih hewan, dan lainnya. Muhammad Arifin Ilham, kerap membaca ayat 97-98 ini sesaat sebelum memulai shalat.

Menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar doa di atas terkait dengan perlakuan kaum kafir Quraish kepada Nabi SAW. Nabi bermohon agar hatinya dikuatkan. Doa itu juga Nabi SAW ajarkan kepada para sahabat agar menjadi senjata batin dalam menghadapi sulitnya perjuangan masa itu.

Sejarah membuktikan bahwa pada episode selanjutnya setelah Nabi berjaya di Madinah beliau datang lagi ke Mekah dan berhasil menaklukkan kota kelahirannya itu. Jadi, antara keberhasilan, kemenangan, dan doa erat kaitannya. Nabi SAW telah membuktikan hal itu hingga menguasai kota Mekah secara de jure dan de facto.

Doa berlindung kepada Allah dari kehadiran setan ini, bagi Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an, bisa jadi didedikasikan untuk menghadapi sakaratul maut sebelum wafat. Makna ini diisyaratkan oleh ayat selanjutnya, yakni ayat 99.

Argumentasi Sayyid Quthb adalah al-Qur’an memiliki metode yang serasi dalam menyusun setiap makna, sesudah dan sebelum ayat. Inilah ayat 99 itu: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia”.

Yang menarik, seperti diungkap al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi, orang beriman juga diminta untuk berlindung dari bisikan setan berupa bangkitnya api kemarahan menghadapi kaum kafir. Alasannya, dikhawatirkan kaum mukmin mengalami kekalahan akibat kemarahan.

Kemarahan karena dendam atas kejahaatan kaum kafir harus dijauhi. Sebab menurut Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an, hal itu bukan tidak mungkin kaum beriman malah akan terjerumus ke dalam kejahatan itu sendiri. Untuk itu, kaum beriman harus memohon pertolongan Allah.

Kembali soal tipu daya setan kepada manusia, Saiful Hadi El-Sutha dalam Mengenali Trik-Trik Setan, mengidentifikasi ada sebelas trik. Pertama, setan mengobarkan sifat pemarah dan syahwat dalam diri manusia. Kedua, Setan meniupkan sikap dengki dan rakus dalam hati manusia.

Ketiga, setan meniupkan kegemaran makan secara berlebihan dalam hati manusia. Keempat, setan membujuk manusia untuk sering berhias dan bermewah-mewah dalam hal perabot, pakaian dan rumah. Kelima, manusia dirayu setan agar berperilau tamak, serakah. Keenam, setan juga membujuk manusia agar kerap tergesa-gesa dalam segala hal.

Ketujuh, setan membujuk manusia agar mencintai uang secara berlebihan, sehingga segala hal diorientasikan untuk mendapatkan keuntungan materi. Kedelapan, dan ini terkait dengan bujuk rayu setan sebelumnya, dibuat manusia jadi bakhil dan tak sudi berbagai karena takut miskin. Padahal sedekah justru membuat harta berkah dan bertambah.

Kesembilan, setan sedemikian rupa membujuk manusia agar hatinya dipenuh dendam dan fanatik terhadap partai, ormas, dan aliran. Termasuk suku, bangsa, dan bahasa. Kesepuluh, dan ini sangat membahayakan adalah manusia dibuat benci kepada ilmu dan orang yang punya ilmu, terutama ilmu agama.

Terakhir, dan ini berpotensi memecah belah hingga mengakibatkan konflik baik vertikal maupun horisonatal adalah setan bujuk manusia agar berburuk sangka. Tujuannya, tak lain agar manusia dengan sesamanya tidak ada rasa saling percaya, persaudaraan, gotong-royong, dan tolong-menolong.

Muhammad al-Shiyam dalam Rumah Yang Tidak Dimasuki Setan, memberi senjata untuk menghadapi setan. Di antaranya, membaca basmallah setiap memulai aktivitas. Banyak berzikir dan beristighfar. Memperbanyak membaca tahlil. Kerap membaca doa pagi dan sore. Upayakan untuk shalat fardhu berjamaah

Selain itu, lanjut Muhammad al-Shiyam, berwudhu sebelum tidur, membaca ayat kursi, dilanjutkan surat al-Ikhlash dan al-Naas. Tidak mendengar musik dan nyanyian yang membangkitkan syahwat. Menggunakan busana sesuai ajaran agama dan tidak menggunakan parfum saat keluar rumah.

Lalu, setiap kali membaca al-Qur’an dan masuk WC membaca isti’adzah. Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Membaca tiga belas ayat dari surat al-Mukmin dan penutup surat al-Baqarah. Membaca surat Yaasiin setiap subuh. Tidak menunda mandi suci setelah haid berhenti, jga nifas atau jinabah, kecuali ada uzur. Termasuk selalu belajar ilmu agama sebagai benteng orang beriman.

Secara normatif, senjata melawan setan di atas, di antaranya bisa kita pahami dari makna sabda Nabi SAW: “Apabila salah seoramh di antara kalian tidur, setan akan membuat tiga buhul ikatan di ubun-ubun kepalanya, masing-masing dipintal dengan kuat; selamat menikmati malam panjang, tidak usah bangun-bangun”.

Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terlepaslah ikatan kedua. Dan apabila ia shalat, terlepaslah ikatan terakhir. Di pagi harinya, ia akan bersemangat dan sehat hatinya. Kalau itu tidak dilakukan, pada pagi hari ia akan bangun dengan suntuk dan malas” (HR Bukhari).

Berikut ini diungkap kembali suatu kisah yang bias dirujuk dalam kitab Talbis Iblis karya Ibnu Jauzi. Ketika Nabi Musa sedang duduk dalam suatu kesempatan, tiba-tiba iblis dating kepadanya. Iblis saat itu mengenakan topi yang berwarna-warni. Iblis lalu menghampiri Nabi Musa, dengan melepas topinya, iblis mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika, ya Musa”.
Musa bertanya, “Siapakah kamu?”

“Aku iblis”
“Apakah kamu tidak merasa malu sehingga berani dating kemari?”
“Aku datang kemari untuk mengucapkan salam kepadamu, mengingat kedudukan dan martabatmu yang tinggi di sisi Allah SWT.”
“Apa yang tadi aku lihat kamu pakai itu?”
“ Itu adalah perhiasan yang biasa aku gunakan untuk merayu manusia”
“Apa perbuatan yang jika dilakukan oleh manusia maka kamu akan dengan mudah menguasai manusia itu?”

“Jika ia telah merasa kagum dengan dirinya, merasa banyak amal ibadahnya dan melupakan dosa-dosanya. Aku mengingatkanmu terhadap tiga hal. Pertama, jangan sekali-kali dengan manusia yang tidak halal bagimu. Karena jika seorang laki-laki berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, niscaya aku akan menjadi sahabatnya, hingga aku berhasil menjerumuskan mereka berdua.

Kedua, Jika kamu berjanji kepada Allah, kamu harus memenuhinya. Karena, jika seseorang telah mengucapkan janji kepada Allah, niscaya aku akan menjadi teman orang itu hingga aku berhasil mencegah orang itu untuk menunaikan janjinya.

Ketiga, jika kamu telah menghitung zakat hartamu, segeralah keluarkan harta zakat itu. Karena, jika seseorang telah mengetahui kewajiban zakatnya itu, niscaya aku akan menjadi sahabatnya yang akan terus berusaha menghalangi nya untuk mengeluarkan zakatnyaitu hingga aku berhasil mencegahnya sama sekali”.

Setelah itu, setan meninggalkan tempat Nabi Musa sambil bergumam. “Aduh aku menyesal. Aku telah memberitahukan kepada Musa tiga hal penting ini, yang biasanya tidak diperhatikan oleh manusia”.

Terakhir, ingatlah kata al-Ghazali dalam Minhajul Abidin, setan itu ibarat maling, jika ia mengetahui bahwa tuan rumah telah mengetahui adanya maling, niscaya maling itu akan lari. Karena itu penting untuk mengetahui segala tipu daya setan. Apalagi Allah yakinkan kita bahwa: “Sesungguhnya, tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. Al-Nisaa/4: 76). Pasti kita bakal menang melawan setan.***

Editor: Nadia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru