Saatnya Menahan Marah

- Reporter

Rabu, 7 Juni 2017 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hikmah Puasa Hari Ke-12

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “…Kalau ada orang yang mencaci maki atau mengajak berkelahi, katakan ‘aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan yang sarat makna ini kembali menggugah kesadaran kita bahwa Ramadhan merupakan sarana spiritual bagi setiap Muslim untuk melakukan pembongkaran tabiat buruk dan hawa nafsu yang membatu.

Nabi mengingatkan, sejatinya puasa bukan sekadar mampu menahan marah, tetapi akan menjadi lebih baik bila kemarahan itu tidak dibalas dengan kemarahan. Sebab kemarahan tidak bisa menyelesaikan masalah, malah semakin membuat keadaan semakin buruk. Menahan marah saat berpuasa dan mengelolanya menjadi kedamaian dan penuh maaf merupakan cermin pribadi bertakwa. Yakni, pribadi yang telah tercerahkan oleh ibadah puasa dan disukai Allah.

Dalam al-Qur’an pribadi yang disukai Allah terekam dengan indah: “Yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imaran/3: 134).

Berwudhu dapat mengurangi rasa amarah yang menghinggap seseorang

Kita akui, tidak ada manusia yang mampu menghindarkan diri dari kemarahan. Kemarahan adalah sifat yang melekat dalam diri manusia yang merupakan anugerah Allah. Karena sebagai anugerah, pada batasan tertentu marah secara proporsional justru dibolehkan. Misalnya, kemarahan yang ditujukan untuk menghalau kian meluasnya kemaksiatan, kerusakan lingkungan, dan terancamnya keselamatan umat manusia. Tetapi, tetap saja kemarahan tersebut harus terkendali, tidak disertai hawa nafsu yang membawa kepada keburukan.

Allah berfirman: “Nafsu itu berkecenderungan untuk menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat” (QS. Yusuf/12: 53).

Selama ini marah kita kerap-kali tidak terkendali. Penyebabnya seringkali hanya karena masalah sepele. Kita lebih suka berteriak-teriak ketika terjebak macet, dan memaki-maki pengendara sepeda motor yang seenaknya memotong jalan kita. Saat antre lebih sering kita gundah, gelisah, lalu membuang marah; mengumpat perilaku masyarakat yang tidak disiplin, fasilitas pemerintah yang minim, atau buruknya pelayanan yang diberikan para pegawai dan pejabat publik.

Padahal kita sadar, marah kita saat itu tidak bisa membuat antrean lebih cepat atau seketika lalulintas jadi lancar. Pun kita mengerti, mengumpat pemerintah seperti itu tidak akan didengar dan yang pasti tidak serta-merta memunculkan perubahan dan perbaikan. Lalu, apa arti marah kita?

Mengenai menahan marah, kembali Nabi SAW menasehati kita, “Orang kuat bukanlah yang bisa menjatuhkan seseorang ke tanah, namun orang yang bisa mengendalikan diri ketika dia marah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini kian mempertegas bahwa kita tidak memiliki alasan pembenar untuk marah-marah. Kendati kita seorang yang kuat atau memiliki kekuasaan, sebagai pribadi yang sedang meniti jalan takwa, sebaiknya kita tidak merasa berhak untuk marah. Perkataan dan tegur sapa yang baik merupakan ekspresi tercantik untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Saudaraku, jangan takut kita bakal kehilangan wibawa di hadapan isteri, anak-anak, dan masyarakat bila kita tidak berteriak-teriak, bersuara tinggi, dan marah-marah. Mereka justru menaruh simpati dan rasa hormat manakala kita membimbing mereka dengan bahasa yang indah dan teladan yang penuh rahmah.

Komunikasi semakin baik tanpa saling memendam kecurigaan bila segalanya kita dasarkan atas kebaikan dan penuh maaf. Bukankah marah Allah itu sendiri masih kalau hebat dengan rahmat-Nya? Sehingga kemarahan Allah itu tidak sampai membinasakan manusia yang penuh salah dan dosa. Saudaraku, masihkah kita berhak untuk marah-marah?

Saudaraku, dalam pendakian yang kian berat ini, marilah kita sempurnakan ibadah puasa kita dengan melepas semua perilaku buruk. Momentum Ramadhan sejatinya membuat kita menjadi kian sabar, kian halus tutur kata kita, kian sayang kepada sesama, dan kian terbuka mata hati kita dalam memahami Bahasa Ilahi. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai wahana supremasi hati nurani terhadap segala macam tabiat buruk yang bergelanyut berat di dalam diri kita.

Inilah kabar gembira yang sampai kepada kita, seperti terurai indah dalam firman-Nya: “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh keburukan (azab neraka) dan tidak pula mereka berduka cita” (QS. al-Zumar/39: 61).

Kita semua tengah menuju kemenangan yang dijanjikan itu. Bersabarlah, mari menahan marah saat puasa dan setelah bulan puasa. *⁠⁠⁠⁠

Berita Terkait

Telah Dibuka! Penerimaan Santri Baru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Tahun Ajaran 2026-2027
Awali Tahun Baru Islam, MUI Kecamatan Pancoran Mas Gelar Subuh Keliling di Masjid Taman Firdaus Depok Jaya
Usai Musim Haji, KIAS Travel Adakan Umroh Awal Musim 1447 H:Catat Tanggalnya!
Telah Dibuka Pendaftaran Bimbel Persiapan Masuk Ma’had Al-Azhar Cairo Tahun 2025 Bersama Bimbel Primago
SMP Tirtajaya Gelar Isra Mi’raj, Sambut Kemenangan Palestina Dengan Imani Sejarah Isra’ Mi’raj
“SMP Tirtajaya dan Siaran Depok Sepakat Sinergi Promosi Sekolah Berkualitas dan Terjangkau”
Pesantren Leadership Primago adakan Seminar Kepesantrenan Tentang Mendidik Anak di Era Digital & Kunci Sukses dalam Mendidik
8 Daftar Pesantren di Depok untuk Anak, Mana yang Jadi Pilihan Parents?

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 15:15 WIB

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 April 2026 - 15:12 WIB

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 April 2026 - 09:45 WIB

Kecamatan Pancoran Mas bersama FKUB dan Kemenag Kota Depok Gelar Harmonisasi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat 

Rabu, 29 April 2026 - 09:43 WIB

Warga Sampaikan Keluhan Air, Lurah Pondok Cina Jembatani dengan PT Tirta Asasta Depok (Perseroda)

Rabu, 29 April 2026 - 09:41 WIB

Wawalkot Depok Hadiri Pelantikan PGPI, Dorong Penguatan Pelayanan Umat

Rabu, 29 April 2026 - 09:19 WIB

Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Bangun Ekosistem Transaksi Cashless dan Digitalisasi Program Pesantren

Selasa, 28 April 2026 - 15:23 WIB

SMK Keluarga Widuri Gelar Tour Wisata Edukasi Bromo, Malang Jogja Tahun 2026 Bersama Dirgantara IAI Tour Travel Depok

Selasa, 28 April 2026 - 15:20 WIB

Jabar Perkuat Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Berita Pilihan

Buku Panduan Cara Unik Promosi Sekolah Karya Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:15 WIB

Berita Pilihan

Best Seller Buku Panduan Masuk Pondok Modern Darussalam Gontor

Rabu, 29 Apr 2026 - 15:12 WIB