oleh

Bagaimana Milenial Menyikapi Arus Informasi di Era Digital?

siarandepok.com – Dewasa ini, istilah milenial sudah tak asing terdengar akrab di telinga setiap pengguna media sosial. Sebuah era modernisme percepatan informasi yang berubah-ubah per sekian detiknya, kemajuan yang kian pesat turut mempengaruhi hamper semua aspek mulai dari politik, sosial, dan budaya.

Generasi milenial menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) adalah mereka yang lahir pada 1980-1990 atau di awal tahun 2000-an dan seterusnya. Istilah tersebut berasal dari milenial yang dipopulerkan oleh dua pakar sejarah sekaligus penulis asal Amerika Serikat, yakni William Strauss dan Neil Howe dalam karya bukunya.

Milenial secara tak langsung dipaksa mengikuti arus perkembangan teknologi yang terus diperbarui dan imbasnya pada tatanan perilaku konsumtif akibat kebutuhan yang semakin dimanjakan dengan teknologi yang kian instan.

Teknologi pula yang secara sadar tak sadar memaksa kita sebagai generasi internet dengan mengandalkan medsos sebagai tempat referensi informasi. Standar informasi yang didapat pun mengikuti permintaan pasar atau keinginan para pengguna dengan kualitas informasi yang minim nilai keobjektifannya. Sementara itu, apa yang dikonsumsi masyarakat kiwari memudarkan nilai berita itu sendiri.

Menurut penelitian salah satu sosiolog ternama, generasi milenial cenderung enggan membahas persoalan agama, politik, dan tidak menyukai kerja-kerja lapangan. Milenial lebih suka membahas hal yang bertele-tele dan receh serta menyukai segala hal yang instan dan pragmatis terhadap suatu pekerjaan.

Jika menengok kembali media pra-kemerdekaan, di era media digunakan sebagai alat pemersatu bangsa, pembentuk opini publik, dan pembangun propaganda pembebasan terhadap penjajahan bangsa asing. Berbanding terbalik dengan fungsi media saat ini akibat terkontaminasi dengan berita hoaks yang acap kali muncul secara massif di medsos dan tersebar di mana-mana.

Berita hoaks dan kebohongan berita yang tersebar terus-menerus di medsos dikonsumsi khalayak secara mentah-mentah tanpa proses cros-check and re-check yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu.

Era liberalisasi media sangat berdampak pada kualitas informasi saat ini, di mana setiap orang selaku pegiat media dapat ikut serta memberikan informasi (citizen journalism). Share-menshare sudah menjadi hal lumrah tanpa mendalami kebenaran berita yang disebar.

Berulang kali penyebaran berita hoaks terus terjadi dan menimbulkan konflik horizontal di kalangan masyarakat menyebabkan benih-benih kebencian, dan tak ayal jika ujaran kebencian di medsos sering terjadi akibat mudahnya masyarakat mempercayai informasi dari media sosial.

Peran pemuda selaku basis inletektual untuk membangun kesadaran masyarakat yang salah kaprah dalam menggunakan medsos menjadi sangat signifikan. Melalui penyebaran berita sesuai data dan fakta dapat meminimalisir penyebaran berita bohong dan kebencian di kalangan masyarakat. Pemuda harus sadar bahwa fungsi media sebagai pemersatu dengan membentuk opini publik dengan kualitas berita kontradiksi yang positif.

Membangun kesadaran akan pentingnya literasi media untuk meningkatkan sikap bijak masyarakat dalam menggunakan medsos menjadi sebuah keharusan millennial sebagai generasi yang hidup dalam kemajuan. Membentuk skeptisisme masyarakat agar tak mudah percaya terhadap suatu informasi yang masih kabur kebenarannya.

 

Penulis: RS

Editor: SF

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru