oleh

MENJADI ABDAN SYAKURA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Covid-19 telah meluluhlantakkan banyak sendi kehidupan masyarakat dunia, tak terkecuali warga Indonesia. Pembatasan Sosial Berskala Besar memaksa kita menghentikan aktifitas keramaian di tempat kerja, lembaga pendidikan, hingga tempat ibadah. Ditambah lagi dampak buruk ekonomi yang terjadi seperti banyak pekerja yang berkurang pendapatannya bahkan hilang akibat pemutusan hubungan kerja. Hampir semua orang terkena efek buruk Covid-19 tanpa memandang status dan jenis pekerjaannya.

Bagaimana seorang muslim menyikapi musibah pandemi Covid-19 yang sedang terjadi? Dalam kitab Uddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin (Bekal orang-orang sabar dan perbendaharaan orang-orang yang bersyukur) karya Imam Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah membagi empat kelompok manusia dalam menyikapi musibah.

Pertama, kelompok orang yang lemah. Mereka selalu berkeluh kesah kepada manusia terhadap setiap keadaan serta tidak menyandarkan segala urusan kepada Allah. Lebih buruk lagi, mereka meratapi hari-hari kelam bahkan sering bertindak diluar batas untuk melampiaskan amarah atas takdir buruk yang mereka terima. Semakin rumit kesulitan hidup akibat banyak mengeluh yang disebabkan lemah iman, akal dan agama.

Kedua, kelompok orang yang sabar. Sabar atas musibah dilakukan dengan cara menahan diri dari perbuatan keji dan munkar. Kemudian mereka menahan lisan dari perkataan buruk. Orang yang sabar dalam menghadapi musibah senantiasa berdoa agar Allah menyingkirkan dan meringankan musibah yang menimpanya dan berharap pahala yang ada padanya, di saat yang sama ia mengambil sebab dan upaya agar musibah itu berlalu darinya.

Ketiga, kelompok orang yang ridha. Mereka berlapang dada ketika musibah menimpanya. Mereka menyadari bahwa semua peristiwa baik dan buruk yang terjadi atas kehendak Allah. Baginya, ketika ditimpa musibah seolah-olah dia tidak merasa mendapat musibah. Derajat ridho atas musibah tentu lebih tinggi tingkatannya dari sikap sabar.

Keempat, kelompok yang bersyukur. Aneh kedengarannya, ditimpa musibah kok malah bersyukur. Ditimpa musibah kok malah berterima kasih. Ya memang demikian keadaan kelompok keempat ini. Baginya musibah adalah sesuatu yang mengasyikkan. Dia seakan menikmati memadu kasih dengan Tuhannya di saat tertimpa musibah yang bagaimanapun bentuknya. Malah, kalau bisa mereka berharap agar musibah itu tidak lekas hilang darinya. Orang yang menempati derajat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah, serta orang-orang yang memiliki tingkat keimanan dan ketakwaan paripurna.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan keadaan orang beriman dalam menghadapi kondisi suka maupun duka: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. [Hadis Riwayat Muslim dari Shuhaib bin Sinan]

Hadis ini menjelaskan bahwa syukur dan sabar adalah perisai seorang mukmin dalam menjaga kesempurnaan iman dan takwanya. Alangkah indahnya kehidupan orang beriman yang senantiasa dalam kebaikan dan limpahan rahmat Allah karena kenikmatan yang ada disyukuri sedangkan musibah dihadapi dengan sabar. Sungguh benar firman Allah: Dan [ingatlah juga], tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [nikmat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [nikmat-Ku], sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. [QS Ibrahim: 7]

Dalam ayat lain Allah berfirman: Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. [QS al-Zumar: 10]
Allah menjadi setiap musibah sebagai rahmat bagi orang beriman yang sabar dan mengharap ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda: Dahulu, thaun [wabah penyakit] adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa thaun, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa thaun tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid, (Hadis riwayat al-Bukhari dari Aisyah).

Abdan syakura adalah hamba yang pandai bersyukur sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tekun beribadah dan berjuang di jalan Allah meskipun beliau adalah manusia yang diampuni dosa-dosanya yang lampau dan akan datang. Begitu pula beliau senantiasa tabah dalam menghadapi perlawanan kaum kafir yang menentang dakwah Islam.

Pandemi Covid-19 seharusnya menjadi wasilah mendekatkan diri kepada Allah dengan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Sebelum mengeluh, alangkah baik kita melihat keadaan orang lain yang mungkin lebih buruk kondisi kesehatan dan ekonominya dari diri kita.

Abdan syakura menjadikan wabah Covid-19 sebagai cara memadu kasih dengan Allah dalam kesendiriannya ketika pintu masjid tertutup. Baginya ibadah bukan hanya persoalan tempat, tetapi kualitas dan kuantitas yang dia wujudkan tanpa harus diketahui orang lain dalam keramaian.

Akhirul kalam. Semoga Allah memudahkan langkah kita agar menjadi abdan syakura dalam menyikapi suasana kebangsaan yang sedang terbatas dan dibatasi oleh adanya kebijakan pencegahan penyebaran Covid-19 dalam berbagai bidang kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan berserah diri.

Hidayatulloh [Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta dan Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru