Menu

Kisah Inspiratif, Mahasiswa Riau Sempat Ditolak SBMPTN Kini Kuliah di Dua PTN Surabaya

  Dibaca : 124 kali
Kisah Inspiratif, Mahasiswa Riau Sempat Ditolak SBMPTN Kini Kuliah di Dua PTN Surabaya

Siaran Depok – M. Taufiq Ramadhan, mahasiswa asal Riau yang kini berkuliah di dua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Surabaya yaitu UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Meski kini berkuliah di dua PTN di Surabaya, Taufiq sempat gagal pada seleksi jalur SNMPTN tahun 2018.

Saat menduduki kelas tiga SMA, Taufiq sempat merasa yakin bahwa ia akan diterima PTN melalui jalur SNMPTN 2018 hingga membuatnya tidak mempersiapkan melalui jalur seleksi tes atau yang disebut SBMPTN.

Namun keyakinan tersebut rupanya tidak menjadi kenyataan sehingga dengan bermodalkan tekad yang ambisius, Taufiq mempersiapkan belajar soal-soal SBMPTN pada H-sebulan

“Dengan nilai raport yang bagus didukung dengan portofolio yang bagus juga, pada waktu itu aku percaya diri banget bisa keterima di PTN terkenal lewat jalur undangan,” ungkap mahasiswa berkacamata tersebut.

Harapan untuk masuk di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) jurusan teknik pupus dan membuatnya sedih lantaran hasil yang ia dapatkan bertuliskan ‘Anda dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNMPTN 2018, Silahkan mengikuti SBMPTN 2018’.

“Sedih banget, tapi untungnya sebelum pengumuman aku sempat daftar jalur undangan lain seperti PMDK-PN (jalur undangan masuk politeknik) dan SPAN-PTKIN (jalur undangan masuk PTKIN) yang semuanya pas daftar aku asal-asalan banget milih jurusannya. Dan ternyata aku diterima di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya dan disitu ibuku seneng banget, tetapi tidak dengan bapakku,” ungkap Taufiq saat dihubungi TIMES Indonesia, Selasa (14/4/2020).

Sembari menunggu tes SBMPTN 2018, Taufiq mengambil PTN yang menerimanya tersebut yaitu UINSA, namun hal tersebut Bapak dari Taufiq masih belum puas meskipun Taufiq telah diterima di PTN. “Bapakku bilang udah anggep aja kamu gak lulus, tetep fokus di tes jangan tergiur sama yang udah lolos,”. Kata Taufiq.

Hal yang disedihkan, karena persiapannya dibilang cukup singkat, Taufiq dinyatakan tidak lolos pada jalur SBMPTN 2018. “Untungnya kemarin yang di UINSA udah daftar ulang jadi memutuskan untuk sementara kuliah di UINSA aja, dan bertekad tahun depan ikut SBMPTN lagi,” ujarnya.

Sempat merasa berat pada awal kuliah di UINSA, mengingat ia tidak pernah menempuh sekolah Islam dari SD hingga SMA, namun dengan berjalannya waktu Taufiq merasakan kenyaman kuliah di UINSA terlebih dengan prodi Komunikasi Penyiaran Islam yang basicnya mempelajari ilmu Public Speaking dan Jurnalis. Terlebih sejak SMA Taufiq sering diundang sebagai MC, presenter, penyiar radio di sekolahnya.

Hingga pertengahan semester dua, Taufiq mengikuti tes SBMPTN 2019 sebagai pembuktian terhadap diri sendiri karena sempat ditolak SBMPTN di tahun sebelumnya, ia pun memilih jurusan Ilmu Administrasi Negara di UNESA dan di UPN Veteran Jawa Timur karena pada dasarnya Taufiq juga menyukai dunia perpolitikan.

Pada waktu pelaksanaan tes SBMPTN 2019, Taufiq merasa tenang dan santai saat mengerjakan soal-soal tersebut. “Pas hari H pelaksanaan SBMPTN 2019 tenang banget beda sama di tahun 2018. Entah mungkin karena tahun 2018 aku ambisius sehingga berfikiran harus lolos. Lucunya pas ngerjain soal SBMPTN 2019 aku sempet ketiduran udah bener-bener gak mikirin bakal lulus apa enggak yang penting berjuang,” ungkap Taufiq.

Kendati demikian, hasil SBMPTN 2019 rupanya membuat Taufiq merasakan kebingungan antara senang atau sedih, lantaran ia diterima di jurusan Administrasi Negara UNESA terlebih orangtuanya memiliki perbedaan pendapat. “Mamaku menyayangkan kalau ninggalkan UINSA sedangkan bapakku malah nyuruh keluar UINSA dan ambil UNESA soalnya menurutnya prospek jurusan di UNESA lebih menjanjikan daripada jurusan di UINSA. Akunya bingung karena memang kedua jurusan itu bener-bener passionku,” ujar Taufiq.

Kendati demikian, Taufiq memutuskan untuk memilih doubledegree atau kuliah di dua kampus dalam satu waktu “padahal gak pernah kepikiran buat doubledegree,” imbuhnya.

Dari kisahnya, Taufiq berpesan kepada para pejuang PTN agar jangan terlalu ambisius, pasrahkan semua sama Tuhan, dan selalu ikhlas dengan kehendak Tuhan.

“Plis jangan ambisius, jangan jadi kayak aku yang dulu yang berpikiran buat lulus. Udah belajarnya santai aja jangan tertekan, pasrahkan semua sama Allah. Dan yang terpenting harus selalu ikhlas dalam melakukan apapun, lakukan semaksimal mungkin, urusan setelahnya biar Allah yang nentuin. Allah juga bakal ngabulin apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan,” ungkap Taufiq yang kini sangat menikmati masa-masa kuliah di dua PTN di Surabaya ini.

Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!