oleh

Belakangan ini banyak sekali perdebatan mengenai pemakaian disinfektan pada bilik disinfeksi.

Siaran Depok – Belakangan ini banyak sekali perdebatan mengenai pemakaian disinfektan pada bilik disinfeksi.

Kenapa sih ada pihak yang bikin bilik disinfeksi? Beberapa universitas, LSM, lembaga pemerintahan (termasuk istana negara) dan bahkan perorangan.
Karena ini adalah salah satu usaha mereka untuk mencoba mengurangi potensi penularan virus covid19 yang sedang mewabah ini.

Berita • Kesehatan

Bilik Sterilisasi, Perspektif Relawan Medis

 

Oleh  dr. Herlina Septiarti

 

Edisi.co.id – Belakangan ini banyak sekali perdebatan mengenai pemakaian disinfektan pada bilik disinfeksi.

Kenapa sih ada pihak yang bikin bilik disinfeksi? Beberapa universitas, LSM, lembaga pemerintahan (termasuk istana negara) dan bahkan perorangan.
Karena ini adalah salah satu usaha mereka untuk mencoba mengurangi potensi penularan virus covid19 yang sedang mewabah ini.

Cara terbaik untuk mencegah penularan tentunya dengan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, juga tidak menyentuh area wajah. Tapi seberapa banyak sih orang yang bisa melakukan itu 100%? Mungkin kita bisa punya akses ke sabun dan air mengalir tapi tidak menyentuh wajah? Sulit.

Berbagai pihak termasuk pemerintah juga sudah berusaha dengan melakukan penyemprotan desinfektan di bangunan dan jalanan. Tapi tidak berapa lama mikroorganisme memang akan muncul lagi.

Bilik sterilisasi ini diletakkan di tempat-tempat yang ramai orang lewat, di pintu masuk bangunan yang banyak orang datang. Bukan di depan rumah pribadi.

Cara terbaik untuk menyingkirkan kuman di pakaian adalah dengan mengganti pakaiannya. Tapi kalau kita ada di tempat umum kan sulit.

Mencuci tangan juga sayangnya tidak bisa di semua tempat. Dan hand sanitizer juga sudah terbatas kan?

Pilihan bahan disinfektan ada banyak. Maka pilihlah yang paling aman dan efektif. Saat ini banyak bilik disinfeksi mengunakan alkohol. Karena walaupun mahal masih bisa didapatkan dan masih jauh lebih mudah didapat dibanding alternatif yang lain. Saya dengar komunitas alumni ITB sdh memproduksi bahan alternatif , bahannya; asam asetat, minyak cengkeh,minyak zaitun , dan aquadest yang bukan disinfektan tapi antiseptik.
Lantas tunggu apalagi?

Sekali lagi, bilik disinfeksi hanyalah salah satu usaha yang dilakukan untuk menambah berbagai usaha lainnya.

Semua orang, dgn caranya sendiri, sedang berusaha untuk mengurangi atau bahkan mencegah penyebaran covid 19, yang berpotensi dan mengancam jiwa siapapun di muka bumi ini dengan caranya masing-masing. Sepatutnya itu dihargai, tanpa menakut nakuti sehingga orang akhirnya tidak melakukan apa-apa. Nah, apakah mereka yang asyik berdebat, dan mengatakan tidak boleh ada bilik sterilisasi, mau bertanggung jawab terhadap meningkatnya risiko jiwa melayang?

dr. Herlina Septiarti

Relawan dan Ibu yg ingin melindungi tiga anak yang terancam penyebaran, Covid- 19, yang belum terbendung*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru