Menu

Radikalisme Dan Cara Pandang Yang Keliru

  Dibaca : 82 kali
Radikalisme Dan Cara Pandang Yang Keliru

Oleh Asri Al Jufri

Dari dulu saya tetap berkeyakinan, bahwa semua permasalahan yang timbul di masyarakat, di keluarga, dan dimanapun, sebagian besar disebabkan oleh diri kita sendiri. Dengan kata lain, setiap individu bisa menjadi remote atau pengendali atas lingkungannya. Lingkungan atau masyarakat sekitar bisa kita bentuk dan kita arahkan. Kita bisa menjadikan lingkungan sekitar baik atau buruk.

Misalkan, seorang teman tak pernah berlaku baik kepada kita, mungkin bisa kita ubah dengan memulai kebaikan kepadanya. Contoh lain, cobalah pada suatu momen misalkan di bulan Ramadhan, kita memasak suatu jenis makanan dalam jumlah cukup banyak. Misalkan kita memasak gule kambing yang kemudian kita bagi-bagikan kepada 20 orang tetangga.

Tunggu dalam beberapa hari kemudian, kita akan mendapat kiriman berbagai jenis makanan. Sebab, mereka yang telah mendapat kiriman itu tergerak hartinya untuk membalasnya. Mungkin tidak semua dari 20 orang itu membalas kiriman tersebut, tapi yakinlah bahwa jenis makanan yang mereka kirim tidak mungkin sama.

Kasus lain, para pengurus sebuah masjid merasa gelisah karena jamaah yang sholat di masjid sangat minim. Berbagai kegiatan di masjid juga jarang peminatnya. Para pengurus umumnya akan menyalahkan jamaah yang dinilai malas ke masjid. Tapi menurut saya, yang pertama kali harus disalahkan adalah pengurus itu sendiri. Mereka tidak kreatif dalam mengelola masjid sehingga tidak menarik bagi jamaah.
Menanggapi kasus aktual akhir-kahir ini, yaitu tentang radikalisme, dimana statemen para menteri dan pejabat negara setiap saat menghiasi media massa. Semua menuding dan menyalahkan tindak radikali itu. Semua menganggap tindak radikal sebagai sumber dari segala sumber masalah. Jarang sekali yang mau instrospeksi bahwa terjadinya tindak radikal itu juga akibat dari kesalahan pemerintah dalam menjalankan fungsinya. Bisa jadi tindak radikal itu terjadi karena masyarakat merasa tidak diayomi, tidak dihargai, tidak dimanusiakan, tidak di-ewongke, tidak diperlakukan secara adil, dan tidak dihargai hak-haknya.

Cara pandang ini sangat penting karena akan mempengaruhi pola kebijakan dalam mengatasinya. Selama kita menganggap tindak radikal sebagai sumber masalah, maka segala cara akan dilakukan untuk memberantasnya yang kadang lebih mengedepankan cara-cara kekerasan, alias pendekatan keamanan. Dan sudah terbukti bahwa cara seperti itu tak akan pernah menyelesaikan masalah. Semakin dikerasi, semakin menjadi-jadi.

Lain halnya kalau tindak radikal itu dipandang sebagai akibat, maka solusi yang ditempuh akan lebih bijaksana, lebih persuasif, lebih edukatif melalui pendekatan kesejahteraan. Kita yakin dengan pendekatan ini akan lebih efektif karena merujuk pada akar permasalahannya.

Pengalaman di beberapa negara maju seperti USA membuktikan, ketika tindak kriminal yang umumnya dilakukan oleh orang-orang kulit hitam diberantas dengan kekerasan, ternyata tindak kriminal itu tak pernah berkurang. Grafiknya baru menurun setelah bebagai upaya pemberdayaan dilakukan dengan melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Semoga kita bisa belajar dari pengalaman itu, dan semoga pejabat kita lebih bijaksana dalam meredam tindak radikal yang terjadi di masyarakat kita. ***

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional