Menu

Diplomasi Budaya dan Kuliner Ala Husnan Bey Fananie di Baku Dapat Dukungan Fadli Zon dan DPR

  Dibaca : 166 kali
Diplomasi Budaya dan Kuliner Ala Husnan Bey Fananie di Baku Dapat Dukungan Fadli Zon dan DPR

Siarandepok.com – Rombongan delegasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia memberi dukungan penuh atas langkah-langkah diplomasi yang dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan, Profesor Dr Husnan Bey Fananie dengan budaya.

Para rombongan anggota DPR dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI, Dr Fadli Zon MSc dengan diikuti oleh sejumlah anggota DPR RI seperti Achmad Farial (PPP), Bobby Adhityo Rizaldi SE MBA CFE (Partai Golkar), Ir Taslim Azis (Partai Gerindra), Pius Lustrilanang (Partai Gerindra), Refrizal (Partai Keadilan Sejahtera).

Dukungan para rombongan diberikan untuk upaya yang dilakukan Duta Besar Indonesia di Azerbaijan dalam upaya untuk memperkenalkan Indonesia kepada berbagai kalangan di Azerbaijan selain hubungan politik, ekonomi, dan berbagai sektor termasuk melalui sektor pendidikan, kebudayaan, bahkan kuliner khas dan asli Indonesia.

Kota Baku yang merupakan ibukota Azerbaijan dikenal sebagai kawasan yang maju dengan pembangunan yang berlangsung sangat pesat, sehingga menjadi salah satu destinasi wisata, yang banyak dikunjungi oleh berbagai pihak dari berbagai negara.

Delegasi anggota DPR RI dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI, Dr Fadli Zon MSc dengan diikuti oleh sejumlah anggota DPR RI seperti Achmad Farial (PPP), Bobby Adhityo Rizaldi SE MBA CFE (Partai Golkar), Ir Taslim Azis (Partai Gerindra), Pius Lustrilanang (Partai Gerindra), dan Refrizal (Partai Keadilan Sejahtera).

Selain aktif memperkenalkan Indonesia melalui kegiatan kebudayaan seperti akan berlangsungnya Indonesia Culture Festival di pusat keramaian di Kota Baku, Prof Dr Husnan Bey Fananie juga aktif dalam mempromosikan Indonesia guna meningkatkan hubungan bilateral di antara Indonesia dan Azerbaijan.

“Indonesia dan Azerbaijan merupakan negara yang berhubungan erat, tapi impor Indonesia dari Azerbaijan jauh lebih tinggi, terkait dengan impor minyak dan ekspor Indonesia ke Azerbaijan bernilai 60 juta US Dollar, sementara impor Indonesia dari Azerbaijan senilai miliaran USD,” kata Fadli Zon, dalam kesempatan kunjungan yang dilakukan di Kota Baku, setelah bertemu dengan pihak eksekutif dan legislatif di Azerbaijan.

Sementara itu, Prof Dr Husnan Bey Fananie menjelaskan, dirinya memang berupaya untuk meningkatkan nilai tambah kerja sama yang dilakukan antara Indonesia dan Azerbaijan.

Selain menjadi Duta Besar, Prof Dr Husnan Bey Fananie juga aktif mengajar dalam program perkuliahan di sejumlah universitas dan perguruan tinggi di Azerbaijan.

Prof Dr Husnan Bey Fananie mengatakan bahwa dirinya mendapatkan gelar guru besar dari sejumlah otoritas perguruan tinggi di Azerbaijan.

“Saya mengajar tentang politik Indonesia, sejarah Indonesia, dan bahasa Indonesia,” katanya.

Fadli Zon dan rombongan juga memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baku.

“Kegiatan tersebut sangat baik dan bisa memberikan dorongan untuk terus meningkatkan jalinan kerja sama dan meningkatkan ekspor Indonesia ke Azerbaijan menjadi semakin baik,” kata wakil ketua DPR RI.

Di kota Baku Azerbaijan juga ada restoran khas Indonesia yang bernama Rajawali, sebagai contoh diplomasi yang sangat baik.

Fadli Zon menjelaskan, diplomasi yang dilakukan tidak semata diplomasi kebudayaan, ekonomi, politik, tapi juga di berbagai sektor termasuk melalui sektor kuliner dan travel.

“Tentu saja, ini sangat baik karena apa yang dilakukan untuk memperkenalkan Indonesia semakin baik di masa depan,” katanya.

Sejumlah delegasi DPR RI juga berkesempatan untuk menikmati makanan dan minuman khas dari Indonesia di restoran tersebut.

Restoran Rajawali merupakan satu-satunya restoran Indonesia di Azerbaijan yang menyajikan masakan khas Indonesia.

“Andalannya ayam bakar, ayam goreng, ikan bakar, mi goreng, dan sebagainya,” kata Anzu, yang merupakan pengelola restoran tersebut.

Anzu sendiri juga sudah menjadi bagian penting dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia di Baku.

Selain terdapat rumah makan dilengkapi dengan berbagai kuliner khas Indonesia, Restoran Rajawali juga menjual berbagai pernak pernik khas Indonesia dan suvenir khas seperti kaos dan berbagai kenang-kenangan asal Indonesia.

Restoran Rajawali juga menyediakan kegiatan kebudayaan Indonesia dengan dilengkapi sanggar tari dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya termasuk dilengkapi dengan alat musik khas Indonesia seperti gendang, kulintang, angklung, dan berbagai ciri Indonesia termasuk sebuah becak diboyong untuk melengkapi daya tarik restoran tersebut.

Sementara itu, dalam kegiatan mengajar di sejumlah kampus di Baku, Prof Dr Husnan Bey Fananie juga mempunyai cara khusus dalam mengajar di antaranya dengan menyertakan kuliah dengan disertai hiburan musik, yang dilakukan setelah 2 jam perkuliahan berlangsung.

Prof Dr Husnan Bey Fananie pun memberikan atraksi untuk menyambut delegasi DPR RI dengan bermain keyboard dan menyajikan lagu-lagu Indonesia dan Azerbaijan.

Selain terdiri dari dia, sejumlah tenaga dari KBRI Baku juga dilibatkan termasuk dengan melibatkan warga asli Azerbaijan sebagai pemain gitar utama, yang juga sesekali melantunkan lagu Azerbaijan.

“Saya, setidaknya hapal 4 lagu Azerbaijan, sedangkan gitaris saya itu hapal memainkan lagu-lagu Indonesia,” kata Prof Dr Husnan Bey Fananie.

Terkait dengan itu, para rombongan DPR RI memberikan apresiasi dan menilai musik menjadi alat komunikasi yang universal di antara berbagai bangsa meski tidak menguasai bahasanya, tapi melalui musik komunikasi di antara bangsa yang berbeda bisa dilakukan dengan baik.

Fadli Zon menambahkan, mereka merupakan bangsa yang mempunyai kedekatan budaya dan berbagai sektor dengan Indonesia.

“Sangat baik dan memunculkan saling pengertian, saling memahami, sehingga meningkatkan hubungan bilateral yang sangat efektif di antara kedua negara,” katanya.

Sejumlah lagu populer asal Indonesia dimainkan dengan baik dilengkapi sistem suara yang juga baik, sehingga dengan cara mengajar seperti itu, Indonesia semakin dikenal karena banyak mahasiswa yang memadati perguruan tinggi dengan sedikitnya 300 mahasiswa mengikuti perkuliahan di saat Prof Dr Husnan Bey Fananie memberikan kuliah.

Sebelumnya, diungkap, keris menjadi simbol untuk mendukung perdamaian yang diupayakan oleh Azerbaijan dalam mendukung perjuangan yang dilaksanakan rakyat di Nogorno Karabakh.

Kawasan yang diinvasi oleh Armenia, yang memicu konflik antara Armenia dan Azerbaijan itu memang sudah menjadi masalah sejak tahun 1988.

Terkait dengan itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) melakukan kegiatan diplomatik dengan menemui sejumlah pimpinan parlemen yang terdiri dari wakil ketua dan anggota parlemen di Azerbaijan.

Dalam kesempatan itu, delegasi DPR RI yang terdiri dari pimpinan DPR dan anggota DPR RI memberikan dukungan untuk perdamaian di Nogorno Karabakh yang menjadi kawasan konflik yang dipicu oleh penyerbuan militer Armenia sejak tahun 1988.

Kunjungan para anggota DPR juga difasilitasi oleh Duta Besar Indonesia, Prof Dr Husnan Bey Fananie MA, yang juga sebagai perwakilan Pemerintah Indonesia dalam mendukung perdamaian di Nogorno Karabakh.

“Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan diplomasi agar tidak terjadi tindak kekerasan yang dialami oleh kalangan rakyat sipil, yang menjadi korban tindakan agresi militer,” kata Husnan Bey Fananie.

Kedua pihak parlemen Indonesia dan Azerbaijan kemudian melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi tersebut.

Kawasan Nogorno Karabakh sendiri menjadi kawasan yang paling dituju antara lain untuk melakukan ziarah ke makam Nabi Nuh.

Kawasan Azerbaijan menjadi daerah yang mempunyai peninggalan bersejarah di antaranya dengan jejak kehidupan Nabi Nuh.

Selain adanya makam Nabi Nuh, Azerbaijan juga mempunyai situs yang diyakini sebagai tempat Nabi Nuh pertama kali membuat bahtera yang kemudian menyelamatkan makhluk hidup termasuk umat manusia, hewan, dan ternak, serta tumbuhan dari gulungan air di atas Bumi, kala itu.

Karena itu, kedekatan antara masyarakat di Nogorno Karabakh dan Azerbaijan tidak bisa dipisahkan.

Menurut Husnan Bey Fananie, ziarah ke makam Nabi Nuh bisa dilakukan dengan menggunakan pesawat.

“Perjalanan udara dengan pesawat berlangsung sekitar 1 jam melalui udara dari Baku,” kata Husnan Bey Fananie.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menjelaskan, Indonesia mempunyai hubungan yang sangat dekat di antaranya dari sejarah perkembangan Islam.

“Dari penjelasan Dubes Indonesia, diketahui bahwa masuknya agama Islam bukan semata-mata dilakukan oleh kalangan penyebar agama Islam serta pedagang dari Gujarat, tapi bahkan dari Azerbaijan di mana terdapat kabar salah satu Wali Songo berasal dari Azerbaijan,” katanya.

Kedekatan Indonesia dan Azerbaijan juga diketahui dengan hubungan bilateral di antara kedua negara yang terus meningkat.

Menurut Husnan Bey Fananie, antara Azerbaijan dan Indonesia terjalin hubungan yang sudah sangat erat sejak lama.

“Hubungan itu terus ditingkatkan, Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan Festival Kebudayaan, yang rutin diselenggarakan setiap tahun, yang berlangsung di pusat kota Baku,” kata akademisi yang mengajar sejumlah mata kuliah di Azerbaijan di sela-sela kesibukannya sebagai Duta Besar Indonesia di Azerbaijan tersebut.

Karena itu, Husnan Bey Fananie menjelaskan, upaya perdamaian yang dilakukan untuk penyelesaian kawasan Nogorno Karabakh menjadi pilihan yang terbaik.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Fadli Zon menyerahkan keris yang di antaranya menjadi simbol persahabatan kedua negara untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan dan hubungan antara Armenia di satu sisi dengan sekutu mereka dan pihak Azerbaijan di sisi lainnya dengan negara-negara yang mempunyai kedekatan dengan Azerbaijan seperti Indonesia dan pihak-pihak yang mendukung Azerbaijan.

Menurut Fadli Zon, sebagai ketua organisasi keris, SNKI di Indonesia, keris melambangkan sebagai sebuah senjata tradisional Indonesia untuk mendukung perjuangan Azerbaijan agar terwujudnya perdamaian di Nogorno Karabakh dengan kembali sebagai wilayah Azerbaijan yang aman dan damai.

“Keris ini untuk mendukung penuh perjuangan Azerbaijan terhadap Nogorno Karabakh,” kata Fadli Zon.

Penyerahan keris tersebut, yang materialnya terbuat dari batu meteor itu memang menjadi simbol dukungan untuk Azerbaijan.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon dan Husnan Bey Fananie bersama Wakil Ketua parlemen Azerbaijan bersama-sama mengangkat keris tersebut, yang kemudian dijadikan sebagai simbol perjuangan rayat Azerbaijan untuk kembali berkumpul bersama dengan rakyat di Nogorno Karabakh di mana sejak terjadinya agresi Armenia telah mengakibatkan satu juta rakyat yang berasal dari Azerbaijan yang berasal dari Nogorno Karabakh menjadi pengungsi.

Mereka menjadi pengungsi dan dinilai sebagai salah satu persoalan kemanusiaan serius yang perlu ditangani karena masih banyaknya tindak kejahatan yang di antaranya terjadi akibat konflik yang terjadi tersebut.

Rombongan pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) melakukan rangkaian kunjungan kerja ke Azerbaijan di antaranya untuk melakukan kegiatan hubungan luar negeri yang dilakukan parlemen Indonesia dengan sejumlah negara sahabat.

Kegiatan di antaranya dilakukan untuk melakukan hubungan luar negeri yang erat dengan Azerbaijan, Selasa (30/7/2019), dengan mengunjungi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Azerbaijan yang membawahi sejumlah kekuatan di antaranya kepolisian Azerbaijan, yang bertugas untuk menjaga keamanan di dalam negeri.

Menurut Fadli Zon, Indonesia bisa berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia di antaranya terkait dengan kawasan Azerbaijan, Nogorno Karabakh, yang dikucilkan oleh Armenia, diiringi sejumlah tindakan kekerasan pembantaian warganya, yang merupakan penduduk Muslim.

“Indonesia bisa berperan untuk menjaga perdamaian dan menyelesaikan persoalan Nogorno Karabakh dengan mengakui kawasan ini sebagai kawasan Azerbaijan,” katanya ketika mengunjungi kota Baku.

Menteri Dalam Negeri Azerbaijan, Vilayat Eyvazov melakan pertemuan khusus bersama Fadli Zon, sebelum melakukan kegiatan yang terkait dengan pembicaraan antara DPR RI dengan perwakilan pemerintah Azerbaijan.

Dalam kesempatan itu, sejumlah anggota DPR mengikuti pertemuan yang dilakukan di kantor Menteri Dalam Negeri dengan didampingi sejumlah petinggi kepolisian yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri seperti dilakukan juga di sejumlah negara demokrasi lainnya.

Azerbaijan sendiri merupakan negara yang baru 27 tahun berdiri dan mempunyai kemajuan pesat dalam pembangunan dalam negeri yang terjadi karena merupakan sebuah negara kaya minyak.

Sejumlah pembangunan dilakukan dengan pesat menyusul pecahnya Uni Soviet yang ditandai dengan penyerbuan oleh Armenia terhadap warga sipil di Nogorno Karabakh.

Menurut Fadli Zon, dengan potensi yang dimiliki Azerbaijan, yang sangat besar, maka sebaiknya Indonesia meningkatkan hubungan antarnegara yang lebih baik dan bersahabat di mana sebagian minyak di Indonesia berasal dari Azerbaijan.

Selain melakukan kegiatan tersebut, rombongan DPR RI juga melakukan kegiatan parlemen bersama Kedutaan Besar Indonesia, yang difasilitasi oleh Duta Besar Indonesia, Prof Dr Husnan Bey Fananie MA.

Azerbaijan sendiri menggunakan mata uang Manat dan tidak menggunakan Euro dalam kehidupan ekonomi mereka meski negara tersebut merupakan bagian negara Eropa.

Sejumlah kawasan di Azerbaijan adalah kawasan yang dikenal sebagai kawasan yang panas dengan angin yang berhembus kencang.

Meski, Azerbaijan juga merupakan negara yang mempunyai 4 musim seperti pada umumnya negara di Eropa.

“Sejumlah kegiatan dilaksanakan di Baku di antaranya adalah Festival Kebudayaan Indonesia, yang akan diselenggarakan pada bulan September 2019,” kata Husnan Bey Fananie.

Harapannya pemerintah Indonesia dan Azerbaijan masing-masing terjadi peningkatan hubungan kerja sama yang semakin baik di masa berikutnya.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional