Menu

MANAJEMEN PUASA (Berdakwah di Tengah Himpitan Kebutuhan Manusia)

  Dibaca : 219 kali
MANAJEMEN PUASA (Berdakwah di Tengah Himpitan Kebutuhan Manusia)

 

 

Siarandepok.com – BERDAKWAH DI TENGAN KESIBUKAN DUNIAWI merupakan tantangan tersendiri dalam membawa misi Rasulullah saw. Berdakwah merupakan buah dari keimanan seseorang, karena ia bahagian dari kebutuhan hidup. Terlebih, dengan berdakwah seseorang menjadi semakin yakin dari apa yang ia percayai selama ini. Ada untaian kata hikmah yang menyebutkan, “fî ayyi ardhin tatha’ wa anta mas’ûlun ‘an islâmihâ” (Di mana pun kamu berpijak di atas muka bumi ini, kamu bertanggung jawab atas kelestarian/perkembangan Islam itu sendiri).

Kali ketiga sang Khatib, Dr. H. Endang Madali, SHI, MA, mengisi khutbah Jum’at (red. berdakwah) di Masjid al-Arqam, Blok F 1, Lantai 7, Tanah Abang, yaitu pada Jum’at, 13 Sya’ban 1440 H/19 April 2019 M. Kali ini tema yang diangkat adalah “Manajemen Puasa”, di mana puasa tersebut menjadi  ajang introspeksi diri, mengolah/mengatur waktu, hingga memberi kesehatan pada diri seseorang.

Terkait mengolah waktu, sang Khatib menjelaskan kepada seluruh jamaah shalat Jum’at dengan tiga hal yang menjadi inspirasi hikmah berpuasa, yaitu sebagai berikut:

1. Setiap manusia memiliki kekuatan, baik potensi (kekuatan) fisik, akal maupun hati. Dan puasa sebagai daya dorong yang kuat untuk berbuat baik. Hal ini, kata sang Khatib, karena menciptakan lingkungan kebaikan secara bersama-sama, yakni berpuasa secara serentak, sehingga membentuk sosial yang utuh lagi terprogram dalam menjalani suatu misi, yaitu berpuasa antara satu sama lain sebagai seorang Muslim, di mana pun ia berada.

2. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki beban, baik fisik, akal maupun hati. Namun, bila dipikul bersama-sama niscaya akan dapat dilewati atau dilalui begitu saja. Perlu diketahui, kata sang Khatib, puasa bersifat ibadah sistemik, di mana regulator (yang mengatur)-nya dari Allah dan Rasul-Nya. Kemudian dijalankan oleh hamba-hamba-Nya.

3. Selanjutnya pada bagian ketiga, sang Khatib menyampaikan, bahwa sebagai manusia perlu ada tata kelola kerja yang baik, yaitu meliputi: Niat (perencanaan), kebersamaan, dan bersifat sistemik. Dari ketiga hal tersebut, akan terbentuk suatu program yang terukur dan terarah dalam menuju cita-cita bersama, yakni seorang manajerial yang baik (red. seorang muttaqin).

Berdakwah di tengah-tengah himpitan kesibukan manusia, membawa berkah dalam menjelaskan arti hidup dan kehidupan yang hakiki. Terlebih, di lokasi Tanah Abang ini, merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Ibu Kota Jakarta, bahkan dari negara-negara tetangga banyak yang berbelanja di lokasi tersebut. Kendati demikian, fasilitas tempat ibadah seperti masjid di tiap-tiap Blok perbelanjaan tersedia, dari Blok A ada Masjid al-Ikhlas, Blok B terdapat Masjid Fatahillah, Blok F 1 — tempat sang Khatib bertugas khatib Jum’at — yaitu Masjid al-Arqam, kemudian di Blok F 2 ada Masjid al-Muhajirin, dan satu lagi di Blok G tersedia Masjid al-Ikhlas juga, namanya. Umumnya, di tiap-tiap masjid tersebut setiap kali ada tromol keliling Jum’atan, sebelum khatib berdiri di atas mimbar, hingga mencapai 3-4 juta per-Jum’at-nya. Hal ini menandakan, sifat kedermawanan para penjual atau pengusaha, juga pembeli tentunya, memiliki jiwa sosial dan spiritual yang tinggi, khususnya dalam beramal kebajikan. Di samping kegiatan khutbah Jum’at, juga ada beberapa kajian dakwah, seperti Kultum (red. Kuliah Tujuh Menit) yang diselenggarakan seusai ba’da shalat Zhuhur atau ba’da Ashr. Juga, tidak tertinggal ada pengajian ibu-ibu yang umumnya dilaksanakan tiap sepekan sekali. Apalagi selama kegiatan di bulan Ramadhan nanti, ada beberapa pengurus masjid yang sudah menyiapkan beberapa kegiatan kajian Islam atau aktivitas dalam peningkatan ibadah selama Ramadhan. Oleh karenanya, selama Ramadhan nanti sejatinya semakin disemarakkan kegiatan positif dalam Islam, bukan justru di-tawakkuf-in (red. diistirahatkan sejenak). Karena motivasi ibadah atau semangat spiritualitas memuncak di bulan Suci ini, yang bahasa hadits atau Sunnah yaitu sebagai bulan umatnya Nabi Muhammad saw. (inna Ramadhân syahru ummatî).

Adapun sebagai pemateri di beberapa masjid tersebut, baik khatib, kajian ilmiah maupun Kultum, dari berbagai macam kalangan atau Ormas (organisasi massa) Islam, yaitu seperti: MUI (Majelis Uama Indonesia), DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), NU (Nahdhatul Ulama), Muhammadiyah, Hidayatullah, juga ada dari kalangan tokoh salafi. Hal ini menunjukkan, bahwa Islam sebagai rahmatan li al-‘âlamîn.

Dalam menyikapi arti sebuah kehidupan, kita sebagai manusia sejatinya mem-balancing-kan (menyeimbangkan) antara kehidupan di dunia ini dan persiapan hidup di akhirat kelak. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt, yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS. A-Qashash, 28: 77).

Selanjutnya, Ustadz H. Endang Madali ini, salah seorang Betawi Depok asli, yang merupakan salah satu Pengurus FSAM (Forum Silaturahmi Alumni Mesir se-Indonesia) untuk wilayah Kota Depok dan Sekitarnya — yang baru dibentuk pada tahun 2018 — menuturkan dalam dakwahnya, bahwa segala aktivitas kita hendaknya diawali dengan doa, karena setiap kegiatan atau gerakan ada doa yang bersifat kontekstual guna sebagai ruh spiritualitas, di samping doa juga sebagai sumsumnya ibadah (al-du’â mukhkhu al-‘ibâdah). Semoga segala langkah dan harapan kita memperoleh rahmat dan hidayah-Nya. Âmîn yâ Rabb al-‘Âlamîn.

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional