Menu

Akhlak Dalam Pergaulan

  Dibaca : 172 kali
Akhlak Dalam Pergaulan

 

 

Siarandepok.com — PEMBINAAN KARAKTER ASN KOTA DEPOK kali ini diselenggarakan pada Rabu, 4 Syaban 1440 H yang bertepatan dengan 10 April 2019 M, pada pukul 07.30 — 09.30 WIB, di 38 titik dakwah yang disampaikan melalui para pemateri dari berbagai kalangan, dari Pengurus MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kota Depok, Pimpinan Pondok Pesantren, Dosen, Penceramah, Tokoh Agama hingga aktivis dakwah. Judul yang diangkat bulan April 2019 ini adalah “Akhlak dalam Pergaulan”, di mana tema ini disampaikan oleh para pemateri dengan sistem dakwah yang berbeda-beda.

Tiga puluh delapan tempat tersebut, dimulai dari Sekretariat Daerah Kota Depok, Inspektorat Daerah Kota Depok, Badan-badan Pemerintahan seperti Badan Perencanaan Pembangunan & Penelitian Pengembangan Daerah, dan Badan Keuangan Daerah. Juga, ke dinas-dinas yang berada di bagian Pemerintahan Kota Depok, seperti Dinas Penanaman Modal & Pelayanan Terpadu Satu Atap (DPMPTSP), Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat & Keluarga, Dinas Perdagangan & Perindustrian, hingga Dinas Kearsipan & Perpustakaan serta Dinas Lingkungan Hidup & Kebersihan. Termasuk pula, Sekretariat DPRD Kota Depok, hingga ke semua Kantor Kecamatan yang berjumlah 11 (sebelas) kecamatan se-Kota Depok. Adapun sebagai koordinator dari Kegiatan Pembangunan Karakter ASN (Aparatur Sipil Negara) Kota Depok ini adalah Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), yang Kepala Badannya adalah Drs. Supian Suri, MM.

Sebagai pemateri dakwah di Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat & Keluarga, yaitu: Dr. H. Endang Madali, SHI, MA (Pengurus MUI di Wilayah Kota Depok). Diawali pembukaan dan sambutan dari perwakilan Kepala Dinas, yakni Bapak Saprudin, di mana kehangatan dan keakraban sudah terasa, karena tiap-tiap peserta yang hadir di Dinas tersebut sangat antusias tuk mendengarkan wejangan, sharing hingga dialog agamis. Sang Pemateri mengawali dengan menunjukkan parfum non-alkohol, di mana ia (Bang Haji, panggilan akrab di Kampungnya) mengilustrasikan bahwa parfum juga dapat  menginspirasi arti dari sebuah persahabatan dan pergaulan sehari-hari, karena melalui parfum itu terasa muncul aura kebaikan-kebaikan, yang dalam ilmu Tasawuf disebut dengan “mazhhar al-khair” atau “mazhhar Allâh”, yakni penjelmaan kebaikan dari Allah swt.

Selanjutnya, diawali dengan mukaddimah dalam uraian dakwahnya, yaitu mengungkap surah al-Hujurât [49] ayat 2, yang memberi pesan bahwa “Bagi orang-orang beriman, agar jangan mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi Muhammad saw, khususnya saat dialog, atau membuat pernyataan-pernyataan yang hanya mengikuti hawa nafsu belaka. Terlebih, kata “akhlak”, (yang menjadi pembahasan dakwah kali ini, red.), berarti budi pekerti atau kelakuan. Sehingga, kata “khlak” sendiri lebih mengarah pada pembentukan tabiat atau kebiasaan seseorang. Dengan demikian, sebagaimana pernyataan dari Abû Hâmid al-Ghazâlî, dalam kitab Ihyâ Ulûmiddîn-nya, bahwa akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa dan mendorong dalam perbuatan-perbuatan spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Apalagi bila dikaitkan dalam hal pergaulan sehari-hari, di mana perilaku seseorang menjadi cermin dari keimanan dan keislamannya.

Ketika membahas tentang konsep diri dalam pergaulan, Bang Haji ini — ia seorang Dosen Tetap Pascasarjana Universitas Mathaul Anwar (UNMA) Banten — menjabarkannya dengan menggunakan bahasa sederhana, bahwa ada hal-hal yang menjadi kepribadian positif di antaranya adalah ia merasa setara dengan orang lain, juga ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat, sehingga pada akhirnya ia mampu memperbaiki dirinya, hal ini karena seseorang itu sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya. Berbeda halnya, bagi mereka yang memiliki konsep diri negatif, di mana seseorang itu cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru. Terlebih, bagi yang memiliki kepribadian negatif, seseorang itu cenderung merasa tidak disenangi orang lain, di samping ia juga bersikap pesimis terhadap kompetisi.

Adapun pembahasan inti, H. Endang Madali ini menguraikan Sistematika Wahyu yang mengarah pada bagaimana berinteraksi terhadap berbagai problematika kehidupan. Dalam hal ini, beliau memberikan beberapa pertanyaan, yaitu meliputi:

Bagaimana menyikapi adanya banyaknya musuh yang membenci Islam?

Apakah yang dituntut oleh kondisi di saat umat Islam menghadapi krisis?

Pelajaran apakah yang dapat diambil dari musibah yang terjadi?

Siapakah penolong dan musuh kita di saat krisis terjadi?

Bagaimana kita dapat menang dari musuh-musuh yang kita hadapi?, dan

Bagaimana jalan keluar dari fitnah-fitnah tersebut?

Semua pertanyaan tersebut dijawab secara lugas dan singkat dengan menguraikan ayat-ayat suci Al-Quran dan dikorelasikan secara kontekstual guna dapat dipahami secara empiris dari apa yang dialami di berbagai penomena hidup dan kehidupan di alam dunia ini.

Dalam kajian ini, disinggung juga tentang akhlak dalam kepemimpinan, di mana pemateri mengutip pernyataan dari Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, yang menyebutkan bahwa, “Pemimpin adalah manusia linuwih yang memiliki kelebihan daripada orang lain, baik dalam prestasi material, intelektual, maupun moral. Karena yang demikian itulah yang menjadikan para pemimpin bisa dipercaya, disegani dan dihormati.”

Terlebih, seorang pemimpin dituntut memiliki panca indera lebih. Dengan kata lain, harus peka terhadap apa yang didengar, dirasa hingga diinderawi secara empiris, sehingga jiwa kepemimpinannya tumbuh dan berkembang terus. Sebagaimana motto Bang Haji ini — yang dijadikannya sebuah filosofi kepemimpinan di yayasan yang ia pimpin, yakni Yayasan Karimatul Hasanah Al-Mubarok — dengan ungkapannya: “Jiwa pemimpin tumbuh dari lingkungan dan perkembangan interaksi sosial.”

Disela-sela menjelaskan tentang kepemimpinan, salah satu peserta ASN bertanya terkait gonjang-ganjingnya peranan ulama di masyarakat, di mana ia merasa bimbang apa sebenarnya kedudukan ulama dalam mengayomi masyarakat. Secara spontanitas sang pemateri menjawab, bahwa ulama terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Ulamâ al-husn (golongan ulama baik) dan ulamâ al-sûI (golongan ulama tidak baik). Hal ini menjadi kental bila dirasakan bahwa seolah ulama banyak yang tergiring oleh kepentingan pribadi atau golongannya dalam mengambil inisiatif sebuah pernyataan, sehingga yang terjadi adalah multi-tafsir pemahaman. Inilah sebenarnya yang membuat masyarakat menjadi bimbang alias bingung. Tuk sebagai penegasan dalam suasana ini, pemateri mengungkapkan, bahwa zaman sudah terbalik, di mana banyak ulama merasa tinggi jika dekat dengan umara, namun sejatinya yang benar adalah umara akan tinggi jika dekat dengan ulama. Pernyataan ini merupakan redaksi dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pemateri ini telah mengenal beliau sejak 30 tahun yang lalu, karena H. Endang Madali ini merupakan salah satu alumni Gontor, yang mulai masuk ke Gontor pada tahun 1990 yang lalu.

Sebagai penutup, pemateri menguraikan pernyataan dari Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, MA, bahwa “Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup menjadi terarah.” Bila tiga hal tersebut dapat diraih (mudah, indah, terarah), niscaya akan memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Terlebih, Pembinaan Karakter ASN Kota Depok ini ditutup dengan doa, di mana agar selalu dapat bimbingan hidup yang terarah guna menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat. Semoga !

 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional