Menu

Tingginya Tingkat Diabetes, Jakarta Tekan Angka Diabetes Melalui Kemitraan Cities Changing Diabetes

  Dibaca : 422 kali
Tingginya Tingkat Diabetes, Jakarta Tekan Angka Diabetes Melalui Kemitraan Cities Changing Diabetes

Siarandepok.com – Diabetes merupakan penyakit yang sering terjadi di Indonesia. Bila tidak diobati secara intensif, penyakit ini juga bisa jadi penyakit yang mematikan.

Jakarta disebut sebagai wilayah yang rentan akan diabetes. Hal inilah yang membuat DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia melakukan kemitraan Cities Changing Diabetes, yang bertujuan untuk menekan peningkatan dramatis prevalensi diabetes di seluruh dunia.

Kemitraan Cities Changing Diabetes menyerukan untuk membengkokkan kurva diabetes dalam mencegah lebih dari 100 juta kasus baru diabetes pada tahun 2045.

Jakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang dipilih untuk menginisiasi Cities Changing Diabetes karena prevalensi diabetesnya yang tertinggi. Berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas), angka prevalensi diabetes yang sudah terdiagnosis meningkat dari 2,5% di 2013, menjadi 3,4% di 2018. Artinya, dari total 10,5 juta penduduk DKI Jakarta, sekitar 250 ribu di antaranya terdiagnosis diabetes.

Menurut dr. Dicky L. Tahapary, Sp.PD, PhD peneliti dari Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia. Pemetaan dilakukan Agustus lalu oleh IMERI-FKUI, Perkeni, dan Pemprov DKI Jakarta. Pemetaan itu dilakukan terhadap 12.775 pasien diabetes yang terdaftar di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Pemetaan itu menunjukkan hanya 30% pasien diabetes yang gula darahnya terkontrol.

Penyebabnya, antara lain penderita malas kontrol rutin dan sulit mengubah gaya hidup.

“Tantangan yang paling susah ialah mengubah gaya hidup meskipun pasien sudah minum obat teratur,” katanya.

Selain itu, ketersediaan obat diabetes di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas masih terbatas beberapa jenis saja sehingga belum optimal mengendalikan gula darah pasien. Didapati juga, meski 70% dari 12.775 pasien diabetes yang terdaftar teratur berobat, hanya 9% yang ikut program pengelolaan penyakit kronis.

Padahal, diabetes yang tidak terkontrol berisiko menimbulkan berbagai penyakit komplikasi berbahaya, seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, amputasi kaki karena luka infeksi yang tak kunjung sembuh, serta kebutaan.

Selain berbagai keterbatasan yang ada di faskes primer, sistem rujukan dan rujuk balik masih perlu diperbaiki. Kebanyakan pasien DM tipe 2 masih mendapat pengobatan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan, hanya 20% dokter umum di Puskesmas yang menerima pasien rujuk balik.

 

Penulis: Inggiet Yoes

Editor: Faisal Nur Fatullah

 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional