Menu

Mengenang Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti

  Dibaca : 153 kali
Mengenang Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti

Siarandepok.com – Bagi kalangan aktivis, mahasiswa, juga pecinta alam pasti sudah tidak asing dengan nama Soe Hok Gie. Anak muda lulusan Fakultas Sejarah Universitas Indonesia (FSUI) dan salah satu tokoh aktivis mahasiswa pada tahun 1960-an.

Ia begitu konsisten melontarkan kritik pada pemerintahan yang berkuasa saat itu. Baginya, hanya dengan kritik yang jujur, objektivitas dapat dibangunkan.

Pemuda kelahiran 17 Desember 1942 ini selain sebagai aktivis mahasiswa, dirinya memang dikenal sebagai mahasiswa yang gemar mendaki gunung. Ia juga dikenal sebagai salah satu pelopor pendiri MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam). Sebuah unit internal kampus yang mewadahi mahasiswa yang cinta terhadap alam dan lingkungan.

Ia bersama koleganya mendirikan MAPALA bertujuan untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya.

Menurut Gie, untuk mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

“Kami katakan bahwa kami adalah manusia manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya.” tulis Gie dalam salah satu artikelnya.

Lanjut Gie, pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar.

Puncak pangrango dan lembah mandalawangi adalah salah satu saksi bisu Gie dalam merenung akan kegelisahannya terhadap hiruk pikuk persoalan ibu kota.

Seperti dalam penggalan puisinya,

“Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti mandalawangi, kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua. Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.”

Namun, pria yang masih keturunan tionghoa tersebut, wafat pada 16 Desember 1969 saat pendakian gunung semeru bersama Idhan Lubis. Akibat gas beracun kala itu.

Dean, aktivis asal bekasi mengatakan, bahwa sosok Soe Hok Gie adalah pemuda idealis yang memegang teguh idealismenya dan membela hak hak rakyat, maka dari itu, pemuda perlu mencontoh beliau dalam menjunjung tinggi idealismenya.” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (6/3).

Museum Taman Prasasti terletak di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Hanya sekitar 15 menit jika menggunakan bajaj dari Stasiun Tanah Abang.

 

Oleh: Rizky Priyandi

Editor: Muhammad Rafi Hanif

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional