Menu

Doa Memohon Jodoh dan Keturunan

  Dibaca : 550 kali
Doa Memohon Jodoh dan Keturunan
(Foto: www.istockphoto.com)

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Dosen FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh (isteri-isteri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan/25: 74).

Pengarang Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an, Sayyid Quthb, menyatakan bahwa ayat di atas berbicara tentang perasaan fitrah keimanan yang mendalam. Perasaan senang untuk menambah bilangan orang-orang yang berjalan di jalan Allah. Yakni, keturunan dan pasangan mereka. Karena mereka itu adalah orang-orang yang terdekat. Apalagi anak dan isteri adalah amanah dari Allah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, dengan doa di atas kita berharap memperoleh jodoh dan keturunan dengan kriteria ”penyenang hati” dan ”imam bagi orang-orang bertakwa”.

Wahbab Zuahili dalam Tafsir Munir, memahami ”penyenang hati” adalah ”penyenang hati kami dengan melihat mereka taat kepada Allah”. Sebab, lanjut Wahbah Zuhaili, kebahagiaan dan kesenangan mereka adalah dengan melihat (anak-anak dan isterinya) yang taat kepada perintah Allah, dan mengamalkan perintah-perintah agama. Sesungguhnya orang beriman itu hatinya merasa gembira ketika keluarganya dan anak-anaknya taat kepada Allah SWT agar mereka bisa berkumpul nanti di surga.

Tentang masuk surga sekeluarga, inilah doanya dalam al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami! Masukkanlah mereka ke dalam surga ’Adn yang Engkau janjikan kepada mereka serta kepada orang-orang saleh dari kalangan orang tua, pasangan suami-isteri dan anak cucu mereka! Engkaulah sesungguhnya Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS. al-Mukmin/40: 8). Yang berdoa, dalam konteks ini, adalah malaikat. Karena cintanya kepada umat Nabi Muhammad SAW yang beriman dan bertakwa. Insya Allah nanti kita di surga tinggal bersama orang-orang yang kita cintai.

Sedangkan ”imam” di atas, kata Wahbab Zuhaili, adalah imam dalam kebaikan. Imam yang menjadi teladan di dalam menjalankan perintah agama dengan berdasarkan ilmu dan amal. Kata ”imaman” dalam ayat tersebut berbentuk singular (mufrad atau tunggal) namun yang dimaksud adalah plural atau jamak, yakni imam-imam yang bisa menjadi teladan bagi mereka dalam melaksanakan perintah agama. Kata ”imaman”, memang dapat berfungsi sebagai tunggal dan jamak sekaligus.

Kita meyakini bahwa semua makhluk Allah ciptakan berpasang-pasangan. Allah pertegas hal itu, “Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin/36: 36). Ayat ini memberi kabar gembira kepada para pemuda yang mampu dan cukup usia bahwa mereka akan mendapat pasangan hidup. Tentu, sebesar usaha dan doa sebesar itu pula harapan mendapat jodoh dan keturunan bakal didapat. Karena itu berdoalah sepenuh hati, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh (isteri-isteri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).

Selain surat Yasin di atas, Allah juga berfirman, “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan dan bertakwalah kepada Allah SWT.yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah SWT adalah pengawas atas kamu.” (QS al-Nisa/4: 1). Bahkanm khusus bagi laki-laki, Allah memberikan kesempatan dan bilangan jodoh (isteri) yang lebih banyak dari perempuan. Allah berfirman, “…maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat…” (QS. al-Nisa/4: 3). Karena itu para bujang, tunggu apa lagi?

Dalam al-Qur’an, disebutkan bahwa orang yang menikah sesuai syariat Islam tergolong ke dalam kelompok orang-orang cerdas. Mengapa? Karena mereka mendapat ketenteraman dan kasih sayang. Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (al-Rum/30: 21). Pantas saja kalau Nabi SAW sabdakan, “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku!” (HR. Ibnu Majah). Tentu kita adalah umat Nabi SAW dan karena itu kita menikah.

Seperti apakah laki-laki atau perempuan yang harus kita nikahi? Allah SWT sampaikan, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dinikahkan) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”(QS. an-Nur/24: 32). Nabi SAW berpesan, “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya. Maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Ada sekelompok kamula muda yang takut menikah karena alas an rezeki setelah menikah. Ini adalah pandangan keliru. Nabi SAW bersabda, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu” (HR. Hakim dan Abu Dawud). Maka yakinilah Allah akan memberi pertolongan setelah menikah. Bukankah menikah itu juga bertujuan untuk mengingat Allah. Allah berfirman, ”Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Al-Dzariyat/51: 49). Pun petuah Nabi SAW, “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang shalihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Dan hendaklah bertakwa kepada Allah separuh lainnya.” (HR. Baihaqi).

Bagaimana buat kawula muda yang belum mampu menikah? Nabi SAW informasikan, “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-Muslim). Tapi petnjuk Nabi SAW ini tidak bisa untuk dijadikan dalil tidak menikah karena alas an belum mampu. Karena yakini sekali lagi, bahwa Allah akan menolong orang yang menikah. Nabi SAW bersaba, “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah: Orang yang berjihad/berperang di jalan Allah. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. Pemuda yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Karena itu segerlah menikah, dan sudahi hidup membujang. Nabi SAW bersabda, “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari). Dalam bahasa sedikit berbeda, Nabi SAW bersabda, ”Di antara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya’la dan Thabrani). Begitu juga, “Salat dua rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada tujuh puluh rakaat yang diamalkan oleh bujangan” (HR. Ibnu Ady dari Abu Hurairah).

Karena itu, seperti ucapan Nabi SAW, “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Baihaqi). Semoga! Amin!***

Editor: Nadia

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional