oleh

Doa Memelihara Hidayah

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ya Tuhan kami! Jangan biarkan hati kami cenderung kepada kesesatan setelah Engkau menunjuki kami! Berilah kami kasih sayang dari sisi Engkau! Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi!” (QS. Ali Imran/3: 8)

Abdullah bin Nashir al-Sa’di dalam karyanya Tafsir al-Sa’di, mengemukakan bahwa ayat ini patut menjadi sebuah contoh metode yang harus ditempuh dalam memahami ayat-ayat mutasyabih (yang maknanya banyak rupa/belum jelas). Dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang orang-orang yang ilmunya mendalam di mana mereka berdoa kepada-Nya agar Allah tidak menjadikan hati-hati mereka condong kepada kesesatan setelah diberi petunjuk. Mereka juga belajar dari pemberitaan Allah dalam ayat-ayat yang lain ikhwal condongnya hati pada kesesatan. Misalnya,”Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka’ (QS al-Shaf/ :5).

Begitu juga kalam mulia Allah, ”Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka” (QS al-Taubah/9: 127. Juga dalam ayat lain, ”Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya’ (QS al-An’am/ : 110).

Menurut al-Sa’di, Seorang hamba bila berpaling dari Tuhannya dan mencintai musuhnya, sebetulnya ia mengetahui kebenaran. Namun ia berpaling darinya. Ia mengetahui kebatilan, namun ia malah memilih berbuat batil. Maka Allah palingkan ia kepada sesuatu yang ia berpaling kepadanya. Pun Allah condongkan hatinya sebagai suatu hukuman baginya atas kecondongannya itu. Sejatinya, Allah tidak menganiaya seseorang. Namun orang itu yang menganiaya dirnya sendiri. Oleh sebab itu, kata al-Sa’di, janganlah mencela kecuali diri sendiri yang memerintahkan kepada keburukan yang dibuatnya sendiri.
Dari doa di atas, kita diingatkan bahwa manusia itu cenderung kepada kesesatan dan lupa. Secara bahasa, manusia berasal dari kata insan, dan dinamakan demikian ”linisyanihi” karena sifatnya yang pelupa. Bahkan setelah datang bimbingan dan petunjuk sekalipun. Agar tidak tergelincir, Allah membimbing kita untuk senantiasa berdoa dengan doa yang Allah sendiri yang mengajarinya. Dalam al-Qur’an sendiri, begitu banyak perintah Allah agar manusia berkomunikasi secara intensif dan kontinu kepada Allah Yang Maha Mengabulkan (al-Mujib) segala pinta dan doa manusia.

Inilah etika dan cara mengkomunikasikan doa yang Allah ajarkan: ”Berdoalah kamu secara tulus dengan tunduk kepada-Nya …” (QS al-A’raf/7: 29). Lalu, ”Berdolah kepada Tuhanmu dalam keadaan khusyuk dan khidmat” (QS al-A’raf/7: 55). Begitu juga, ”Jangan keraskan doa jangan pula jangan pula terlalu lembut, tetapi carilah jalan tengah di antara itu” (QS al-Isra’/17: 110). Semua doa yang kita panjatkan, Allah berjanji akan merespons, ”Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya untuk kalian ” (QS Ghafir/40: 50). Doa senada juga terdapat dalam surat al-Baqarah/2 ayat 186.

Terkait dengan doa di atas, Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, ”Rasulullah SAW sering memanjatkan doa ini: ’Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah kalbuku di atas agama-Mu’. Saya bertanya, ’Wahai Rasulullah, betapa seringnya engkau memanjatkan doa ini’. Beliau menjawab, ’Tidak ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua jemari di antara jemari al-Rahman. Jika Dia berkehendak untuk mengokohkannya, maka ia pun dikokohkan. Dan jika berkehendak untuk menyesatkannya, maka ia pun disesatkan. Apakah kamu tidak menyimak, fimran Allah, ”Ya Tuhan kami! Jangan biarkan hati kami cenderung kepada kesesatan setelah Engkau menunjuki kami! Berilah kami kasih sayang dari sisi Engkau! Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi!”

Dalam pengamatan Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Mishbah, doa di atas dalam teks Arabnya tidak menggunakan kata ”Yaa” (wahai!) yang merupakan kata seru untuk memanggil yang jauh. Hal ini mengisyaratkan kedekatan mereka kepada Allah SWT atau kedekatan Allah SWT kepada makhluk-Nya. Maka benarlah firman Allah, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (QS al-Baqarah/2: 186). Bahkan disebutkan bahwa dekatnya Allah dengan kita sedekat kita dengan urat leher kita sendiri. Jadi, selama ini terbukti kita yang menjauhi Allah SWT, bukan sebaliknya.

Dikatakan, orang berbijak pernah berkata bahwa kalau kita merapat, mendekat kepada Allah selangkah, maka Allah akan membalas dengan merapat dan mendekat seribu langkah. Manakala kita menghampiri Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan membalasnya dengan berlari. Jadi, bila kita dekat maka Allah lebih dekat, pun sebaliknya. Apalagi, Allah itu tergantung sangka kita kepada-Nya, dekat atau jauh kita di sisi Allah tergantung sangka kita kepada-Nya. Maka yakinilah, Allah itu dekat. Caranya, mari kita merapat dan mendekat dengan memperbanyak bermunajat. Salah-satunya dengan melafalkan doa di atas yang diyakini sebagai doa kaum intelektual yang rendah hati dan waspada akan berbuat dosa.

Dalam doa memelihara hidayah di atas, ”Ya Tuhan kami! Jangan biarkan hati kami cenderung kepada kesesatan setelah Engkau menunjuki kami!”, Syaikh Nawawi Banten dalam tafsir memberi penjelasan. Doa tersebut, menurut pengarang Tafsir Munir itu berarti, ”Jangan Engkau menyesatkan hati kami dari agama-Mu sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada kami ke jalan agama-Mu. Selain itu, maknanya: Ya Tuhan kami, jangan Engkau menjadikan hati kami cenderung kepada kebatilan sesudah Engkau menjadikannya cenderung kepada kebenaran”. Tampak di sini, hidayah bukan hadiah tapi harus dicari dengan susah dan payah.

Sedangkan dalam potongan doa selanjutnya, ”Berilah kami kasih sayang dari sisi Engkau!”, Syaikh Nawawi menjelaskan: ”Berilah cahaya iman, tauhid, dan makrifat ke dalam hati kami. Berikanlah cahaya ketaatan, ibadah, dan pelayanan terhadap anggota tubuh kami. Berikanlah kemudahan sarana penghidupan berupa keamanan, kesehatan, dan kecukupan di dunia. Berikanlah kemudahan dalam menjalani sakaratul maut pada saat meregang nyawa. Berikanlah berikanlah kemudahan dalam menjalani pertanyaan di alam kubur yang gelap. Berikanlah ampunan dari segala kesalahan dan berikanlah timbangan kebaikan yang berat di akhirat kelak”.

Inilah mengapa kata ”rahmatan” dalam ayat di atas ditulis secara nakirah (undefinitif/tidak tertentu). Menurut al-Syaukani dalam karynya Fathul Qadir, kata ”rahmatan” berfungsi menujukkan betapa besarnya (tidak terbatas). Seperti diungkap Syaikh Nawawi Banten di atas. Namun, makna ”rahmatan” ini juga bisa berarti keteguhan hati (yang tak terbatas dan terus-menerus berulang-ulang yang bersumber dari sisi Allah SWT), seperti yang dipahami oleh Jalaluddin al-Suyuthi, dalam Tafsir Jalalain, ketika beliau meneruskan karya Jalaluddin al-Mahalli yang menulis Tafsir Jalalain mulai al-Kahfi hingga akhir al-Qur’an.

Terakhir, ketika kita mengkomumikasikan doa kita kepada Allah dengan penggalan kalimat ”Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi!” sesungguhnya kita sedang meminta karunia kepada Sang Maha Pemberi Karunia. Pernyataan ini juga sejatinya pengakuan diri kita. Selama ini mungkin kita mengaku besar, hebat, berpengaruh, tapi ternyata kita begitu kerdil dan nayali kita bahkan kecil. Kita masih takut lapar, takut haus, takut susah, takut miskin, mudah lelah, putus asa, gampang marah, dan sakit hati. Dengan ilmu yang secuil kita kerap menyangka kita pandai, tapi ternyata ketika kita mengaca dan mengacu kepada Allah SWT kita bukan pandai, tapi kita pandir. Maka, benarlah kalau Allah ajari kita bahwa Allah adalah tempat bergantung.

Bagi Quraish Shihab, sifat Allah sebagai al-Wahhab (Maha Pemberi) adalah ”Yang Memberi walau tanpa diminta”. Pemberian-Nyapun banyak dan berulang-ulang. Bahkan berkesinambungan dan tanpa mengharap imbalan, baik di dunia maupun di akhirat. Tentu sifat seperti ini hanya Allah yang memiliki, karena itu kita memohon kepada-Nya dengan doa yanga diajarkan Allah di atas. Karena itu untuk meneguhkan hati kita, kita patrikan di dunia ini hanya Allah Yang Memberi tanpa diminta. Ia memberi tanpa berharap kembali. Tujuannya, agar kita jangan pernah meminta kepada selain Allah Yang Maha Pemberi. Karena yang diberikan manusia sejatinya bersumber dari Allah SWT jua.

Tak ada pilihan, mari kita bergantung kepada Allah dengan mengkomunikasikan doa dan pinta kita kepada-Nya. Insya Allah dikabulkan. Apalagi doa ini, kata Quraish Shihab dalam karyanya al-Lubab, disertai dengan penegasan bahwa Allah SWT akan menghimpun manusia di hari akhirat dan bahwa Dia tidak menyalahi janji-janji-Nya. Allah berfirman, ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS Alu-Imran/3: 9). Inilah, tulis Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an, sebagai doa orang yang sudah mendalam ilmunya. Semoga kita bisa! Amin!***

Editor: Nadia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru