Menu

Hikmah Ramadan

  Dibaca : 296 kali
Hikmah Ramadan
Ilustrasi bulan Ramadan. (Foto: The Indian Express)

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Sekretaris MUI Kota Depok

 

Rasulullah SAW selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

Sedangkan para salafush-shalih dengan penuh haru memanjatkan doa,

“Allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.”

Artinya: ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang Engkau cintai dan ridai.

Ramadan memang bulan istimewa bagi umat Islam. Pada bulan inilah setiap muslim merasakan suasana yang mendorongnya untuk selalu mendekat kepada Allah SWT. Siang hari berpuasa menahan lapar dan dahaga, malam hari melakukan shalat tarawih dan shalat malam, bahkan waktu-waktu luang lebih banyak diisi dengan berzikir dan tilawah Al Quran. Selain itu, pada bulan Ramadan inilah hubungan antar sesama manusia menjadi lebih baik. Hubungan suami isteri lebih mesra, hubungan orang tua kepada anak lebih indah dan terarah, juga antar saudara dan tetangga kerap kali saling berbagi.

Bahkan Rasulullah SAW dalam khutbahnya menjelang Ramadan menyatakan bahwa orang yang puasa laksana orang yang diundang menjadi tamu Allah yang dijamu dan dimuliakan-Nya. Yang karena itu, setiap tarikan nafas menjadi tasbih, tidur bernilai ibadah, amal-amal dibalas berlipat ganda dan doa-doa diijabah. Inilah bulan dimana Allah menurunkan begitu banyak rahmat dan ampunan kepada hamba-hamba-Nya. Maka, apalagi yang lebih membahagiakan bagi seorang hamba selain mendapatkan kemuliaan dari Tuhannya? Pengharapan apalagi yang lebih diinginkan oleh seorang hamba yang lemah, selain diterimanya doa oleh Tuhannya?

Sabdanya dengan kata-kata yang indah, “Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu, karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.”

Dia Yang Maha Agung berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah : 186).

Akan tetapi, bagi hamba yang terjaga, ia tidak hanya hanyut dengan keharuan karena berbagai fasilitas yang dijanjikan oleh Allah dalam bulan suci ini. Ia menyadari, bahwa harus ada sebuah upaya yang sangat sungguh-sungguh agar keintiman dengan Ilahi selalu terjaga. Kenikmatan karena dekat dengan-Nya harus tetap terjaga sampai di luar bulan suci. Kenikmatan merasakan lapar dan dahaga seharian untuk selanjutnya berbuka dengan kesegaran ruhani dan jasmani. Kesyahduan shalat malam, yang kadang diselingi dengan rintihan penuh pengharapan kepada Dia Yang Maha Memiliki. Keindahan subuh berjamaah di masjid bersama tetangga, sanak saudara bahkan anak dan isteri, yang diakhiri dengan berjalan kaki menuju rumah sambil menghirup sejuknya udara pagi. Kalau itu semua adalah kenikmatan, maka marilah kita berketetapan hati agar di bulan syawal dan seterusnya, aktifitas yang bernilai dan penuh nikmat itu tetap kita jalankan.

Di bulan suci ini, Rasulullah tidak hanya menyuruh kita menjalankan aktifitas yang selalu berhubungan dengan Allah semata. Lebih dari itu, selain yang bernilai kesalehan ritual tadi, Allah melalui Rasul-Nya memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk gemar berbagi kepada sesama; mencintai dan menyayangi orang tua, menyantuni fakir miskin, memberi makan dan mengasuh anak yatim, menolong saudara yang dalam bencana dan kesulitan serta kegiatan lain yang bernilai kemanusiaan.

Sabdanya, “Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.”

Jelaslah, alih-alih berkata dusta, mencaci, memboikot, menghina, mencuri, menipu, korupsi, menceritakan keburukan orang lain baik dengan cara sembunyi-sembunyi apalagi di muka umum, menebar fitnah, mengadu domba, dan perilaku-perilaku lainnya yang memutuskan hubungan kekerabatan dan kemanusiaan. Oleh Nabi kita justru diperintahkan agar mencari cara agar ikatan kasih sayang (silaturahmi) semakin dieratkan dan nilai-nilai persaudaraan semakin disebarkan. Beliau mengatakan jagalah dirimu dari api neraka, walaupun hanya dengan memberi sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun dengan hanya memberi seteguk air.

Semoga ramadan tahun ini mengantarkan kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin dekat kepada-Nya serta semakin menyadari kehadiran-Nya dalam setiap aktifitas. Semoga juga ramadan tahun ini mampu mengajarkan kepada kita untuk selalu mencintai sesama makhluk ciptaan-Nya. Luruh dan hilanglah kebencian, permusuhan, dan penindasan kepada sesama, berganti dengan kasih sayang, tolong menolong, hormat-menghormati dan saling berbagi yang tulus. Wallahu A’lam.

 

Sumber: jurnaldepok.id

Editor: Chintiana

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional