Menu

Kilas Balik Sejarah Nama Kota Depok

  Dibaca : 765 kali
Kilas Balik Sejarah Nama Kota Depok

Siarandepok.com – Kota Depok yang tidak lama lagi akan berumur 19 tahun (27 April 1999-27 April 2018) mempunyai akar sejarah panjang. Sejarah ini tertulis secara apik, runtut dan runut didalam Buku “Jejak Langkah Islam Di Depok”  cetakan kedua tahun 2007 dan ditulis oleh ; Djamhur, Baharuddin Ibrahim dan Syamsul Yakin serta di terbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok.

Menurut Dr.KH.Syamsul Yakin, buku tersebut memperkenalkan sejarah Depok, alur yang dilalui dan kemudian baru menuju ke muara inti yang mengurai jejak langkah Islam di Depok.

“Untuk itu perlu lebih dahulu memperkenalkan Depok secara terurai dan sistematis,” ujar Dr. KH. Syamsul Yakin

Dikatakannya Wilayah kelurahan Depok kecamatan Pancoran Mas, atau kota Depok yang kita kenal sekarang, pada zaman kerajaan Pajajaran (kerajaan Sunda) atau mungkin juga sebelumnya merupakan daerah yang penting karena letaknya yang strategis, yakni :

  1. Letaknya ada di pinggir sungai Ciliwung. Pada zaman Pajajaran dan juga sebelumnya (kerajaan Tarumanegara) sungai merupakan prasarana transportasi yang utama.
  2. Ada ditengah-tengah antara Pakuan (ibu kota) dan Sunda Kelapa (kota pelabuhan Pajajaran)
  3. Di Depok terdapat pelabuhan kecil yang bernama Cipanganteur, lokasinya di Kampung Mangga sebelum Perum Pesona Khayangan sekarang.
  4. Dari Cipanganteur sampai ke Sunda Kelapa aliran sungai Ciliwung relatif tenang jadi mudah dilayari perahu-perahu kecil

“Perlu dijelaskan disini nama Depok di zaman Pajajaran belum ada. Nama Depok baru muncul sesudah agama Islam masuk ke Depok. Jadi penamaan Depok disini hanya sebagai petunjuk tempat untuk memudahkan pembaca mengetahui lokasi dimaksud,” ungkap Syamsul Yakin.

Dikatakannya dari Sunda Kelapa sampai ke Pakuan memerlukan dua hari pelayaran/naik perahu (Tom Pires). Karena letak Depok ada ditengah-tengah antara Sunda Kelapa dan Pakuan, Depok dijadikan tempat singgah. Dirinya menambahkan Hasil bumi dari Depok dan sekitarnya dibawa ke Sunda Kelapa melalui pelabuhan Cipanganteur dengan perahu atau getek. Begitu pula para pedagang dari Sunda Kelapa terutama orang Melayu dan China banyak yang datang ke Depok untuk berbelanja, terjadilah transaksi yang ramai disekitar pelabuhan Cipanganteur.

“Dengan ramainya Depok menjadi pusat jual-beli, tidaklah heran kalau di Depok terbentuklah pemukiman-pemukiman yang padat. Di lokasi yang sekarang kelurahan Depok saja, terdapat lima kampung dalam bahasa Sunda yaitu : Parung serab, Parung Balingbing, Bojong Jati, Parung Malela, dan Kampung Mangga,” jelas Syamsul Yakin

Ketua MUI Bidang Penelitian ini melanjutkan Sedangkan, nama tempat lainnya diluar kelurahan Depok, misalnya Cikumpa, Cimanggis, Karang Anyar (kini Sengon), Parung Bingung, Cinere, Pabuaran, dan Susukan. Berdasar asal kata namanya, jelas kampung-kampung terbentuk sejak zaman Pajajaran dan tidak pernah ditinggal penghuninya. Sebab kalau ditinggal penghuninya, bila datang penduduk yang baru tentunya nama tersebut akan disesuaikan dengan penduduk yang baru. Seperti untuk nama lokasi seperti kukusan, Kemiri, Beji, Rawageni, Rawadenok, Pesona Depok, Kota Kembang, dan lainnya.

“Penghuni kampung-kampung yang terbentuk zaman Pajajaran itulah yang kemudian menjadi penduduk asli Depok,” terang Syamsul Yakin

Dirinya mengungkapkan Suatu kesalahan besar dan menyesatkan, YLCC (Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein) dalam makalahnya pada seminar sehari di Depok menulis beberapa kesimpulan, diantaranya, pertama, sejarah Depok diawali dengan kedatangan Cornelis Chastelein. Kedua, pada kata pengantar makalah tersebut ditulis : “Cornelis Chastelein yang membangun Depok tempo dulu bersama 150 orang budak belian yang disebut cikal bakal warga asli Depok”.

“Sejarah mencatat keberadaan kerajaan Pajajaran pada abad ke-15 sedangkan Cornelis Chastelein datang abad ke-18. Di sini terdapat tenggang waktu 300 tahun. Apakah dalam kurun waktu 300 tahun itu penghuni kampung-kampung yang telah ada sejak zaman Pajajaran berkurang atau bertambah?” pungkas Syamsul Yakin

 

Penulis: Suci Cahyani

Editor: Siti Melyana

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional