oleh

ALLAH AL-QOWIY ( Yang Maha Kuat )

-Agama, Pendidikan-1.567 views

 

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok dan Pengajar Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Sungguh, mereka yang hidup di bawah tirani Fir’aun menyangka Raja Ramses II itu begitu kuat. Ia tak akan terkalahkan apalagi setelah mengaku sebagai tuhan. Tak lama, ternyata Fir’aun yang jenggotnya sempat ditarik Nabi Musa itu tenggelam tak berdaya. Ia sesaat sempat mengiba kepada Tuhan Yang Esa, Allah swt. Dalam kaca mata sejarah, nasib Kaum Aad, Tsamud, dan Madyan begitu juga.

Kendati telah beroleh negeri yang kaya dan jaya tetapi mereka tak kuasa berhadapan dengan angin kering dan banjir. Sungguh, orang-orang kuat datang dan pergi pada setiap kurun. Pun di negeri kita, Amerika, Kuba, Malaysia atau di mana saja. Setelah menjadi digdaya dan adikuasa, berangsur-angsur mereka melemah, tak berdaya dan nirkuasa.

Sadarkah manusia setelah beragam pelajaran Allah berikan? Tidak. Inilah, kata orang bijak, letak keunikan manusia yang disempurnakan dengan kekurangannya: tidak pandai menguak hikmah di balik kisah. Mereka lebih suka menafikan kebesaran yang sesungguhnya kecil. Terpesona pada kekuatan temporal yang menggoda padahal secara fundamental rapuh. Layaknya gelembung buih di lautan.

Bahkan di antara manusia ada yang senantiasa tertipu dan keliru. Misalnya, mereka tertipu oleh sesuatu yang dianggapnya mulia padahal hina, abadi tapi sebenarnya serba-nisbi, seolah senang tapi pada akhirnya membuat terpelanting dalam kesengsaraan.

Kini, kembali kita diinsyafi dengan sifat Allah sebagai al-Qawiy. Dan memang, seperti dikatakan oleh Prof Quraish Shihab, secara umum dapat dikatakan bahwa sifat al-Qawiy atau Yang Maha Kuat, dipaparkan dalam al-Qur’an dalam konteks menghadapi para pembangkang. Dari sembilan kali kemunculannya dalam al-Qur’an, tujuh ayat yang mensifati Allah dengan sifat al-Qawiy dirangkaian dengan sifat al-Aziz. Dua lainnya digandengkan dengan kata “syadid al-iqab” atau Yang Maha Pedih Siksa-Nya.

Mengapa demikian? Karena orang-orang yang menjadi obyek ayat ini sudah terlalu jauh melangkah dalam dosa, lari meninggalkan kebenaran dan petunjuk-Nya.

Misalnya, dalam al-Qur’an surat Huud/11 ayat 66, Allah membuktikan kepada mereka yang durjana dan membangkang bahwa mereka tidak akan diselamatkan oleh Allah. Dengan mengutus Nabi Shaleh, nabi yang berasal dari kaum mereka, Allah kembali “membujuk” mereka untuk memegang teguh kebenaran, tidak hidup membabi dan membuta di muka bumi.

Tapi mereka tolak Nabi Shaleh dengan tidak memedulikan ajakan dan ajaran kebaikannya, bahkan sebaliknya keangkaraan dan kemurkaan yang mereka tebar kian menjadi hingga menimbulkan huru dan hara serta malapetaka. Apa akhir dari semua ini? Al-Qur’an menceritakan bahwa mereka mengakhiri hidup secara mal-bahagia. Mengapa? Karena kekuatan Allah meliputi mereka semua.

Sebagai pelajaran bagi manusia sepanjang zaman, Allah rekam peringatan-Nya tersebut di dada para penghapal al-Qur’an, yakni “Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

Sekali lagi, kita bertanya: sejalan dengan ayat di atas, apakah saat ini masih ada orang-orang yang senantiasa menolak ajaran dan ajakan “Nabi Shaleh” modern?

Sepertinya di abad kini para pembangkang kian berkembang, dan sejarah tampaknya sudah berulang. Mereka yang senantiasa berlindung di bawah payung kekuatan Allah, niscaya hidupnya mulia dan penuh rasa bahagia. Seberapapun besar azab dan sengsara yang mendera (karena ulah para pembangkang), “kaum Nabi Shaleh” tetap hidup optimis, tidak sinis kepada mereka yang kaya dan berprestasi.

Mereka juga tidak memaki-maki pemimpin dan menghujat pejabat yang gemar menelantarkan orang banyak. Karena mereka lebih tepat didoakan, dinasehati. Kalau dengan cara tersebut tidak membuat mereka bergeming, maka baru kita serahkan para pembangkang itu kepada Dia Yang Maha Kuat Yang Maha Pedih Siksanya, di mana kaum Nabi Shaleh yang membangkang sudah membuktikan Ke-Maha-Kuatan-Nya.

Mungkinkah kita menyaksikan para pembangkang modern diazab dengan sangat pedih oleh Allah swt? Tentu segala sesuatu bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dia Maha Kuat untuk melakukan apapun, kapanpun! Konteksnya mungkin tidak sama, tapi substansinya serupa.

Misalnya, ketika Allah tebar penyakit yang belum juga bisa diantisipasi secara dini seperti AIDS, flu burung, SARS, cikungunya, sapi gila, antraks, termasuk menghentikan aksi nyamuk demam berdarah, boleh jadi ini peringatan Allah kepada mereka yang membangkang. Kendati yang beriman juga turut merasakan.

Bukankah memang demikian sifat murka Allah, mereka yang bertakwa dan durjana sama-sama beroleh malapetaka manakala Ia murka?

Berdasar argumentasi di atas, seperti apakah konsepsi Allah sebagai al-Qawiy itu? Muhammad Ash-Shahim Asmau Allah il-Husnaa lil Athfaal, mengatakan makna al-Qawiy sama dengan al-Matiin, yakni tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan-Nya. Tidak ada keagungan yang lebih mulia dibanding dengan keagungan-Nya. Semua makhluk di hadapan Allah adalah lemah. Sebab Dialah pemilik kekuatan hakiki yang tidak pernah akan mengalami kelemahan selamanya.

Perbedaan keduanya, bagi Mahmud Samiy dalam Mukhtashar fi Ma’ani Asma Allah al-Husna, al-Qawiy menunjukkan kekuasaan yang sempurna, dan al-Matiin menunjukkan kekuatan yang sangat.

Seperti apakah nasib atau kondisi orang-orang yang meneladani sifat al-Qawiy ini? Pertama, menurut Syaikh al-Jerrahi mereka akan menjadi mulia dengan manifestasi al-Qawiy. Dengan kekuatan Allah, hamba itu mampu mengalahkan hawa dan nafsu, hasyrat duniawi, amarah dan sifat buruk, serta pasukan setan yang lain.

Dengan kekuatan Allah, asma al-Qawiy bermanifestasi pada dirinya sehingga dia mampu menghancurkan, di mana saja dan kapan saja, semua musuh: manusia, setan, pun jin. Tidak ada yang dapat menentangnya. Dia menghadapi semua musuhnya dengan kekuatan Allah di mana kekuatan tersebut tak ada yang mengungguli.

Kedua, dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah/58 ayat 21, Allah memberi kabar gembira bagi siapa saja yang meneladani sifat al-Qawiy dan sungguh-sungguh menjalaninya, yakni: “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang’. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

Jadi, seperti apapun terpuruknya kita, termasuk bangsa ini, bila kita secara sungguh-sungguh berlindung dan melempar asa kepada al-Qawiy, dengan izin Allah kita akan berhasil, sukses dan menang, rakyat sejahtera dan keadilan bertebar di mana-mana.

Semoga kita tidak hanya pandai berkata-kata, tapi Allah bimbing kita hingga bisa meneladani-Nya.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru