oleh

Seri Asmaul Husna : As-Sami’ (Yang Maha Mendengar)

-Agama-2.721 views

 

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok

 

Pendengaran adalah indera vital yang dimiliki manusia. Sedikit saja terganggu, maka informasi menjadi tidak akurat, simpang siur, dan seringkali menimbulkan persepsi keliru. Miliaran orang di bumi saat ini sedang mendengar dan sekian banyak pula orang yang lalu mengolah, menganalisa, dan selanjutnya merespons secara kreatif apa yang mereka dengar.

Berawal dari pendengaran ini muncul kebaikan, kedamaian, cinta, kebijakan yang membela hak-hak rakyat. Pun dari kesalahan mendengar ini juga muncul fitnah, peperangan, penindasan, kemiskinan dan pemiskinan, termasuk malapetaka dan malnutrisi di mana-mana.

Dalam terminologi al-Qur’an, kata As-Sami’ adalah sebuah kata benda yang merujuk kepada sifat Allah Yang Maha Mendengar. Karena merujuk kepada Allah, kata ini berarti mendengar, mengabulkan, atau merespon secara akurat tentang sesuatu yang tampak, tidak kasat mata, kasar dan halus, jauh atau dekat, terang-gelap dan bahkan terdengar atau tidak terdengar.

Maksudnya, Allah mendengar secara pasti setiap bunyi, tanpa alat, setiap suara yang sangat halus sekalipun. Di ujung benua terjauh, di tengah hiruk-pikuk dan pekaknya dunia suara, Allah menangkap suara gesekan pohon di rimba, tetesan air, desah napas angin, ombak, dan turun-naik napas kita. Semua tidak luput dari jangkauan-Nya. Dan semua itu, didengar Allah secara pasti, akurat, dan berbuah kebaikan dan perbaikan untuk semua.

Berdasar sifat Allah sebagai As-Sami’, sejatinya kita bukan hanya mendengar dengan daun telinga. Karena indera itu serba nisbi, terbatas, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan, perubahan alam, dan aneka kepentingan. Misalnya, ketika di ujung pulau paling Timur terjadi tragedi kekurangan pangan yang berujung kematian, bisa ditanggapi bermacam-macam, padahal suara jeritan kelaparan dan histeris kematian itu memekakkan telinga.

Kita harus mendengar dengan hati, dalam arti bukan hanya mendengar tangisan, jeritan, atau pekik protes, tetapi yang lebih halus dari itu, yakni keinginan tanpa suara: hidup dilindungi, sehat, cukup pangan, pendidikan, bebas buka suara, dan mendapat kesempatan yang sama untuk sama-sama bekerja dan bekerja sama.

Pendengaran kita sejatinya bertuah sosial dan spiritual sekaligus. Allah sebagai As-Sami’ sendiri memberi ganjaran bagi hamba yang memuji, membesarkan, dan senantiasa membenarkan semua keputusan-Nya. Sebaliknya memberikan funishment, bagi yang durhaka, menebar teror, berbuat kerusakan, termasuk mangkir kepada pemimpin.

Bagi rakyat yang begitu mematuhi dan mencintai pemimpinnya, setia mengikuti peraturan dan kebijakan yang dibuat pemerintah, pantas kalau mereka mendapat prioritas pertama untuk didengar, dibela, dan diselamatkan. Inilah pendengaran yang dirahmati Allah, berdasar fakta-data lalu berbuah perbaikan sosial, kekuatan integrasi, peningkatan spiritual sebagai bekal menjadi bangsa unggul. Jadi, umat bukan satu entitas yang pantas ditindas, dirampas, digilas, dilibas, dan ditebas, dicincang, dan dipanggang. Karena umat itu adalah kita sendiri. Rakyat adalah kita semua.

Saatnya kita meneladani Allah sebagai As-Sami’, Zat yang mendengar semua rintihan permohonan hamba-Nya (As-Sami’ al-Du’a), Zat yang mendengar dan mengetahui (As-Sami’ al-Aliim) semua yang dirasakan manusia, Zat yang mendengar dan melihat (As-Sami al-Bashir) semua perilaku pemimpin dan rakyatnya. Tiada tempat bagi kita untuk melakukan pembicaraan rahasia kecuali Allah mengetahuinya. Tiada permohonan yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh kecuali Allah akan meresponnya secara positif.

Allah katakan, “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa” (QS. Ali Imran/3: 38). Begitu firman Allah, “…Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (QS. Ibrahim/14: 39). Keyakinan terhadap Allah sebagai Pendengar segala Doa merupakan modal tersendiri untuk menjadi manusia unggul, manusia yang kokoh-kuat kompetensinya, yang tidak kehilangan asa sebelum berdoa dan merasa kalah sebelum maju ke medan laga.

Tak terhitung manusia saat ini yang sedang bercakap-cakap di tempat terbuka maupun kedap suara. Terdapat sekian jumlahnya yang merasa tidak ada yang mendengar, karena bersifat terbatas dan rahasia. Padahal sangka itu keliru. Allah Yang Maha Mendengar hadir di tengah-tengah pembicaraan itu. Ia mengetahui dan mendengar secara pasti dan tidak ada yang rahasia bagi-Nya. Karena itu kebatilan yang kita bicarakan sebaiknya tidak dilanjutkan.

Pun fitnah, bisik-bisik jahat, pekik propokatif dan anti-persatuan dan perbaikan sebaiknya disudahi saja. Sebab semua didengar oleh-Nya. Allah mengingatkan, “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, kecuali Dia yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersma mereka di manapun mereka berada” (QS. Al-Mujadilah/58: 7).

Meneladani Allah sebagai As-Sami’ tidak hanya mengajarkan kita untuk berempati kepada suara-suara mereka yang menderita, tetapi turut menghantarkan kita pandai menimbang sebuah berita. Jika yang pertama mendorong kita untuk membuat proyek kemanusiaan, seperti sarana kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, dan tersedianya akses informasi dan transfortasi yang memadai, sebaliknya untuk yang kedua, kita mesti menahan diri. Memang, tidak mudah percaya pada sebuah informasi tanpa mendengar dan menyaksikan sendiri, membutuhkan kerja ekstra. Tetapi di sinilah letak keseriusan kita mengamalkan sifat Allah sebagai As-Sami’ diuji, yakni mendengar secara bijaksana atau merekayasa substansinya.

Dalam konteks di ataslah relevansi Surat al-Qashash/28 ayat 55, “Apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, salam perpisahan untuk kamu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. Dalam ayat senada Allah memesan kita, “Apabila kamu melihat orang-rang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka jangan dengarkan mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (terhadap larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (QS. al-An’am/6: 67).

Substansi dari sifat Allah yang As-Sami’ al-Aliim atau Maha Mendengar dan Melihat ini adalah mengajarkan kita agar sebelum berkata-kata hendaknya mendengar dan melihat lebih dahulu. Tujuannya, tentu, agar kata-kata kita sarat makna, berisi nasihat, atau perintah/kebijakan yang membuat bahagia seluruh masyarakat. Bukan sebaliknya, sekadar kritik balik, kata-kata penuh sayap, atau sekadar asbun sehingga membuat penuh sesak dunia suara/bunyi. Kalau kita hanya rakyat jelata suara asal-bunyi itu paling-paling hanya didengar oleh dua tiga orang dalam perbincangan terbuka di warung kopi. Tetapi bagaimana kalau kita adalah guru, ustadz, pemimpin perusahaan, ketua RT, Lurah, Camat, Walikota, atau pejabat tinggi yang menentukan kebijakan publik?

Karena itu ada kaitan erat antara orang yang tersusun rapi kata-katanya, benar melapalkannya, dan tahu situasi dan kondisinya dengan kemampuan mendengar dan melihat, dzahir mapun batin. Ketika seseorang berkata bahwa sebuah negeri akan hancur tanpa sebuah dukungan rakyat dan keperbihakan pemimpin, mestinya itu didengar dengan daun telinga, dibuktikan dengan data, dan secepatnya melakukan tindakan konkret. Tujuannya agar disintegrasi itu tidak benar-benar terjadi. Sedangkan mengangkat polemik tentang hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan langkah pemecahan masalah adalah tindak mubazir saja.

Kita sebenarnya ingin hidup bahagia, saling mencintai, dan berkumpul di surga nanti dengan penuh suka cita. Hanya saja saat ini kita diuji dan diseleksi siapa di antara kita yang tangguh keimanannya dan besar pembelaannya kepada sesama.

Bertolak dari sifat Allah sebagai As-Sami’ ini kita memulainya kembali. Kembali memperbaiki kualitas pendengaran dan penglihatan sebagai dasar berkata-kata dan tindakan nyata. Semua hakikatnya adalah ladang amal bila kita pandai-pandai mengolahnya. Karena tidak ada pendengaran yang sia-sia, bila kita merapat kepada-Nya untuk “meminjam” Pendengaran-Nya.

Sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari menjelaskan hal ini. Sabda Rasul, “Kalau Aku sudah mencintaimu, maka ketika kamu melihat sesungguhnya kamu melihat dengan Penglihatan-Ku. Ketika kamu mendengar, kamu mendengar dengan Pendengaran-Ku. Kalau kamu minta pertolongan, akan Kutolong segera, dan jika kamu minta perlindungan, kamu akan Aku lindungi”.

Semoga kita selalu dibimbing dan dianugerahi kemampuan untuk mendengar yang sunyi sehingga kita jadi kaya-rahasia dengan media pendengaran dan pengetahuan yang kita miliki.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru