oleh

Seri Asmaul Husna : “Al-Mu’id” (Yang Maha Mengulangi)

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok

 

Dalam praktik politik Islam masa silam, para penguasa cukup banyak yang mengulang-ulang kembali kebaikan. Sebut misalnya, Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Abu Dzar al-Ghifari.

Mereka memperagakan sifat Allah sebagai al-Mu’id, yakni Yang Maha Mengulangi. Semua yang diulangi Allah adalah kebaikan. Ia mengembalikan segala sesuatu yang telah diciptakan. Tugas mendesak kita saat ini adalah mengulangi semua kebaikan itu demi perbaikan negeri ini.

Kebaikan seperti apa yang kembali harus kita ulangi dan teladani? Pertama, kita harus selalu mengulangi perhatian dan cinta-kasih kita kepada sesama. Dengan sangat mendebarkan Umar bin Khathab telah memberikan teladannya kepada kita.

Dikisahkan, ketika Umar bin Khathab menjabat sebagai penguasa, di suatu malam Umar berkeliling kota bersama seorang pembantunya. Kala itu, semua rumah gelap menandakan penghuninya sedang tidur nyenyak. Ada satu rumah yang pintunya masih terbuka sedikit. Karena tertarik, Umar mendatanginya. Ternyata ada tangis seorang anak yang suaranya hampir habis karena lelah menangis.

“Mengapa anak itu menangis terus, apakah ia sakit?” Tanya Umar. Seorang ibu menjawab, “Tidak, dia menangis karena lapar.”

Umar melihat ke dalam, di tungku ada api yang menyala dan di atasnya ada kuali yang menandakan si ibu sedang memasak sesuatu. “Tapi ibu kelihatannya sedang memasak. Apa itu yang sedang dimasak?” Kembali6 Umar bertanya.

Ibu mempersilakan kedua tamunya yang tak dia kenal itu untuk melihat sendiri isinya. Betapa terpana Umar setelah dilihatnya kuali itu berisi batu. “Mengapa ibu rebus batu itu?” Ibu itu menjawab, “Supaya anaknya tahu seolah-olah ibunya sedang memasak dan berhenti menangis, “Itu yang dapat saya lakukan sampai Anda datang,” katanya.

Terharu Umar mendengarnya, matanya tertunduk ke bawah dan menggeleng sedih. Saat itu pembantu Umar mengatakan, “Apakah ibu tidak tahu, di Madinah ada Amirul Mukminin di mana ibu dapat memberitahukan keadaan ini untuk mendapat pertolongannya?”

Spontan ia menjawab, “Andai di kota ini memang ada seorang khaifah, ada Amirul Mukminin, maka dialah yang seharusnya datang kepada kami untuk melihat nasib kami yang kelaparan ini. Bukan saya yang mesti datang kepadanya.”

Mendengar perkataan itu Umar bin Khathab langsung lemas kedua kakinya. Ia bergegas mengajak pembantunya pergi untuk mengambil sepikul gandum. Ketika Khalifah Umar yang sudah tua itu akan memikulnya sendiri, pembantunya melarang, “Biarlah saya yang membawakannya untuk ibu itu, ya Amirul Mukminin,” katanya. “Tidak,” jawab Umar, “Akulah yang bertanggung jawab kepada Allah, baik dunia dan akhirat atas kejadian ini. Bukan kamu” Umar memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan itu.

Kedua, kita harus berani menolak keinginan siapa saja, secara berulang-ulang, yang mendorong kita untuk berlaku tidak adil, mementingkan diri sendiri, keluarga, dan golongan.

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah bibinya sendiri. Kedatangannya untuk meminta tambahan jatah dana dari kas negara. Mungkin sang bibi berpikir karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, sehingga akan mudah baginya meminta tambahan dana dari kas negara.

Ketika sang bibi masuk, Khalifah Umar sedang makan kacang (adas) dan bawang sebagaimana makanan rakyat jelata. Melihat sang bibi datang ia segera menghentikannya, “Wahai Amirul Mukminin, aku ingin tambahan dana subsidi dari Baitul Mal,’ pinta sang bibi.

“Tunggu sebentar,” kata Umar. Kemudian Umar pun mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, ia membungkusnya dengan kain. “Inilah uang tambahan yang bibi minta,” kata sang khalifah sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan bibinya. Begitu menggenggamnya, spontan sang bibi melemparkannya sambil menjerit kesakitan karena panas.

Umar berkata, “Wahai bibi, kalau api di dunia saja begitu panas, dan menyakitkan, bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan bibi karena menyelewengkan harta negara?”

Ketiga, kita harus berani berulang-ulang melancarkan protes kepada pemimpin yang korup, bermewah-mewah dan bermegah-megah.

Saat Muawiyah diangkat sebagai Gubernur Syiria masa pemerintahan Usman, kondisi ekonomi di sana masih kacau akibat sistem ekonomi warisan Romawi. Dalam kondisi demikian Muawiyah justru membangun istana megah dan mewah di Damaskus. Abu Dzar bangkit melancarkan protes. Abu Dzarr mempertanyakan kepada Muawiyah, “Dari mana sumber uang untuk membangun istana ini? Jika berasal dari uang rakyat, maka Anda telah merampas hak-hak rakyat. Tetapi kalau itu adalah uang Anda sendiri, maka Anda adalah seorang pemboros”.

Di tengah kondisi bangsa yang sedang berulang-ulang dilanda kemelut sosial, politik, dan ekonomi ini, saatnya kita ulangi akhlak mulia yang telah diperagakan oleh Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Abu Dzar al-Ghifari. Tentu sebelum negeri ini mengalami stagflasi dalam semua lini. Apalagi dalam waktu dekat, akan kembali berulang, pesta politik lima tahunan.

Indonesia saat ini begitu menanti sosok anak negeri yang berpredikat Abd al-Muid. Yakni, pribadi yang dianugerahi Allah pengetahuan tentang rahasia segala sesuatu diciptakan berulang-ulang. Di tengah-tengah kaumnya, Abd al-Muid adalah pribadi pembaharu yang senantiasa menata kembali berbagai urusan dan kebutuhan.

Kini saatnya kita bertanya, kitakah Abd al-Muid itu? Semoga!***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru