Menu

Soft Approach, Solusi Ditengah Konflik Kemajemukan

  Dibaca : 255 kali
Soft Approach, Solusi Ditengah Konflik Kemajemukan

TruePapua.com – Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam suku, agama, ras dan budaya berada didalamnya. Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk dengan segala kepluralisme yang dimiliki. Dengan pluralisme seperti ini, tidak heran jika muncul beragam permasalahan dari adanya gesekan perbedaan dalam masyarakat, seperti permasalahan sosial, budaya, ekonomi, politik dan lainnya yang dapat menimbulkan suatu konflik. Berbagai permasalahan tersebut dapat menjadi hal yang menghalangi perwujudan tujuan suatu negara, sehingga dibutuhkan pendekatan yang mampu memberikan solusi tanpa adanya pihak yang merasa terugikan. Hal tersebut bisa didapatkan melalui pendekatan dialogis atau soft approach.

Konflik horizontal maupun konflik vertikal tersebut dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional dan keutuhan NKRI. Pemerintah dalam hal ini aparat keamanan dan seluruh stakeholder sebenarnya telah melakukan penanganan terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Seperti melakukan penindakan dan menghukum para pelaku (secara represif). Namun untuk permasalahan kelompok separatis maupun kelompok bersenjata, penanganan pemerintah melalui pendekatan represif bukanlah satu-satunya jalan. Di mana selama ini pendekatan dengan cara ini justru meningkatkan resistensi dari kelompok-kelompok tersebut, bahkan tidak sedikit menimbulkan korban jiwa baik dari anggota kelompok separatis bersenjata maupun aparat keamanan yang bertugas.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia untuk meminimalisir permasalahan-permasalahan tersebut demi menjaga stabilitas nasional dan kedaulatan NKRI tanpa menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo terlihat tengah melakukan penanganan atau penyelesaian konflik melalui pendekatan damai atau soft approach. Seperti pernyataan Presiden Joko Widodo ketika membuka rapat kabinet tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Selasa, 5 Januari 2016 di Jakarta. Beliau menyatakan bahwa pendekatan hukum dan keamanan yang tegas bisa dilakukan dalam penangan permasalahan konflik dan HAM, namun aspek dialogis harus dikedepankan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemerintah saat ini tengah mengedepankan pendekatan dialogis dari pada pendekatan represif dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi, terutama pada kelompok separatisme dan kelompok bersenjata. Namun, apakah pedekatan dialogis ini mampu untuk menyelesaikan konflik yang ada?

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional