Menu

Mewaspadai Upaya Propaganda Komunis Menebar Isu

  Dibaca : 286 kali
Mewaspadai Upaya Propaganda Komunis Menebar Isu

PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. kerakyatan yang di pimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kita semua tentu paham benar dengan isi Pancasila tersebut, bahkan isi perpasalnya sudah hafal diluar kepala. Namun, masih ingatkah kita tentang sejarah kelam di balik Pancasila tersebut?

Catatan sejarah kelam tersebut adalah G-30S/PKI. Sejarah G-30S/PKI tercatat sebagai salah satu sejarah kelam perjuangan bangsa karena ketika kemerdekaan yang baru sebentar di rebut dari tangan penjajah justru ingin di rongrong oleh Partai Komunis Indonesia atau lebih di kenal PKI dalam upayanya mencoba mengkudeta pemerintahan bangsa Indonesia yang saat itu di bawah pimpinan Presiden Soekarno..

Dimana puncak dari kebiadaban partai berlambang palu dan arit di Indonesia yang saat itu di bawah komando Dipa Nusantara Aidit atau sering dikenal dengan nama DN. Aidit melakukan propaganda besar di negeri ini. Bahkan lewat Komandan Batalyon I Cakrabirawa yang di pimpin Letnan Kolonel Untung Syamsuri pada tanggal 30 September 1965 pada Kamis malam Jum’at atau pergantian hari 1 Oktober, gerakan ini melakukan tindakan keji. Mereka menculik dan membunuh beberapa jenderal yang memiliki kedudukan militer cukup tinggi. Gerakan ini akhirnya lebih di kenal dengan sebutan G-30S/PKI atau Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia.

Beberapa orang yang menjadi korban dari keberutalan aksi G-30S/PKI saat itu adalah :

  1. Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani (Meninggal Dunia di rumahnya, Jakarta Pusat. Rumahnya sekarang menjadi Museum Sasmita Loka Ahmad Yani)
  2. Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono
  3. Mayor Jendral Raden Soeprapto
  4. Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan
  5. Mayor Jendral Siswondo Parman
  6. Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun (Meninggal dunia di rumahnya)
  7. Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo
  8. Kolonel Katamso Darmokusumo (Korban G30S/PKI di Yogyakarta)
  9. Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto (Korban G30S/PKI di Yogyakarta)
  10. Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean (Meninggal di kediaman Jendral Abdul Haris Nasution)
  11. Ade Irma Suryani Nasution (Putri Abdul Haris Nasution, meninggal di kejadian ini)

Para Jenderal dan para staf Militer Tinggi Negara ini akhirnya berhasil ditemukan dalam posisi tidak bernyawa dan dikuburkan menjadi satu dalam sebuah sumur yang lebih di kenal dengan Lubang Buaya. Beruntung usaha PKI untuk menguasai negeri ini berhasil di tumpas dalam waktu cepat oleh pasukan militer Indonesia yang saat itu di pimpin Mayor Jendral Soeharto. Tepat pada jam 21.00 WIB atau 9 malam pada 1 Oktober 1965 pemerintah lewat Mayor Jendral Soeharto mengumumkan PKI di Indonesia berhasil ditumpas. Akhirnya sejarah tanggal 1 Oktober dikenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan untuk mengenang 7 jenderal yang menjadi korban keganasan PKI pemerintah membangun Monumen Pancasila Sakti.

Terkait sejarah kelam G-30S/PKI tersebut dan menyambut hari kesaktian pancasila yang ke-50 tahun ini, peran kita sebagai gerenasi penerus bangsa adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mewaspadai munculnya gerakan komunis gaya baru (kebangkitan komunis).

Salah satu ciri khas gerakan komunis Indonesia adalah menghasut, memfitnah dan mengadu domba melalui berbagai upaya propaganda halm ini sesuai dengan jati dirinya yang menjadi bahaya laten. Hal ini dilakukan agar masyarakat kelas menengah bawah sebagai kelompok terbesar bangsa Indonesia terpengaruh, sehingga melakukan gerakan-gerakan frontal untuk melawan negara. Tanpa menyaring dan menganalisa terlebih dahulu keauntentikan informasi tersebut, termasuk menganalisa maksud utama dibalik pernyataan, sikap atau tindakan tertentu yang dilakukan oleh pemerintah.

Untuk itu, langkah yang paling efektif adalah dengan cara meningkatkan pengetahuan dan wawasan kebangsaan serta ketahanan nasional atas kebhinekaan dan catatan kelam masa lalu. Hal ini memiliki arti penting yaitu sebagai penghargaan terhadap harkat dan martabat bangsa Indonesia yang harus terus dipertahankan dan dapat ditingkatkan. Memiliki kekuatan tekad untuk tujuan maupun cita-cita nasional, tempat mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan nasional yang pada hakikatnya adalah kepentingan keamanan dan kesejahteraan guna mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah, tanah air dan bangsa. Dan juga merupakan himpunan nilai-nilai yang meliputi bersatu, berdaulat, adil, dan makmur yang menjadi fondasi untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan NKRI.

Selain itu, hal yang perlu dipahami bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bangkit dari sejarah kelam bangsanya, mengambil hikmah dari catatan sejarah tersebut guna membentuk sebuah peradaban yang lebih berkemajuan. Artinya bahwa kita mendukung rencana pemerintah Jokowi tentang perlu adanya upaya merekonsiliasi atas sejarah masa lalu guna menapaki sejarah baru yang lebih baik, demi keutuhan bangsa dan kemajuan bangsa, tinggal bangaimana kita mencari bentuik yang paling elegan sesuai dengan budaya yang kita miliki.

Terkait isu akan adanya permintaan maaf pemerintah kepada mereka yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam fitnah tersebut, Jokowi disebut akan mewakili Pemerintah Indonesia untuk meminta maaf kepada keluarga Partai Komunis Indonesia (PKI). (Kompas.com 22/09/2015). Seperti yang diungkapkan oleh Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan bahwa pemerintah sedang mencari formulasi yang tepat guna melakukan rekonsiliasi kasus pelanggaran HAM masa lalu yang dikategorikan berat dan bukan meminta maaf terkait peristiwa G-30S/PKI.

Kemudian dilanjutkan Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan, Presiden Jokowi tidak pernah memiliki niat untuk meminta maaf terhadap keluarga PKI. Bahkan, isu permintaan maaf kepada keluarga PKI itu tidak pernah disinggung dalam rapat bersama para menteri terkait. Sikap Pemerintah tersebut sangat tepat karena partai terlarang tersebut telah melakukan pemberontakan beberaqpa kali dan merongrong negara dengan membunuh banyak perwira senior TNI , khususnya TNI-AD. Masalah ini mungkin sudah lama dilupakan Bangsa Indonesia terutama generasi mudanya yang tidak mengalami masa pahit getirnya suasana di tahun 1965-an saat antek- antek PKI menjalankan siasatnya. Generasi muda yang tidak merasakan suasana “panas’ saat G-30S/PKI melaksanakan aksinya . Masyarakat yang hidup saat itu, pasti tidak akan melupakan situasi yang menggambarkan betapa sulitnya mencari mayat- mayat perwira Angkatan Darat yang diculik, dibunuh dan kemudian dimasukkan ke dalam lubang di kawasan Lubang Buaya di Jakarta Timur. Kemudian bagaimana usaha para perwira bersama tokoh- tokoh masyarakat untuk memulihkan pemerintahan disaat apalagi ada saling kecurigaan terhadap berbagai pihak-pihak yang terlibat pada peristiwa berdarah-darah itu.

Rekonsiliasi memang penting dilakukan agar kita tidak terkurung atas sejarah kelam masa lalu dan saling menghakimi satu dengan lainnya. Kita juga mengetahui bahwa para aktor utama di balik sejarah G-30S/PKI sudah lama tiada dan kita sebagai bangsa tidak perlu membuang energi untuk saling menghakimi kepada mereka-mereka yang tidak terlibat sedikit pun atas kejadian di masa lalu. Namun juga tidak berarti pemerintah harus meminta maaf atas peristiwa tersebut dimana PKI telah beberapa kali melakukan pelanggaran konstitusi dengan memberontak dan merongrong kewibawaan pemerintah yang sah.

Sesuai deklarasi HAM PBB dan UUD 1945 bahwa Indonesia menjamin hak dan kewajiban serta harkat dan martabat seluruh warga negara Indonesia, termasuk anak cucu eks-PKI, mereka pun memiliki hak yang sama membangun bangsa Indonesia yang lebih berkemajuan. Untuk itu, pada kondisi ini kiranya kita mendukung upaya baik dan bijak dari pemerintah guna menemukan formulasi yang tepat guna melakukan rekonsiliasi atas pelanggaran HAM pada sejarah G-30S/PKI ini agar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi jauh lebih baik. Selamat bekerja kabinet kerja, wujudkan Indonesia baru yang berwibawa. Sejarah boleh kelam, Tetapi kita tidak akan terjerumus pada kesalahan yang sama karena Indonesia punya niat untuk maju dan menjadi negara besar, untuk itu mari kita saling membahu bersatu melwan berbagai upaya yang akan menghancurkan bangsa ini, waspadalah……………waspadalah..

 

Satrio Sutama : Penulis adalah Pemerhati sejarah aktif pada Kajian Sejarah Nasional untuk Pengembangan Bangsa.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional